Hidup Yang Menyehatkan

17/62

Bab 12 - Pengaruh Penyakit Terhadap Pikiran Dan Moral

Depresi Mental

220. Tubuh yang berpenyakit mempengaruhi otak. Dengan pikiran kita melayani Tuhan.— F. of F ., hlm. 146. HM 67.1

221. Semua orang harus menjaga pikiran yang sehat, kalau tidak Setan memperoleh kemenangan atasnya; karena ini adalah jalan menuju jiwa.— T., jld . 3, hlm. 507. HM 67.2

222. Saraf-saraf otak yang mengkomunikasikan ke seluruh sistem adalah alat satu-satunya jalur di mana Surga bisa berkomunikasi kepada manusia, dan mempengaruhi kehidupannya yang paling dalam. Apa pun yang mengganggu sirkulasi arus listrik dalam sistem saraf, mengurangi kekuatan dari kuasa vital itu, dan akibatnya adalah berkurangnya kepekaan dari pikiran.— T., jld. 2, hlm. 347. HM 67.3

Ketidakpekaan Moral

223. Akibat otak yang padat sekali, saraf-sarafnya terganggu kerjanya, dan berada dalam kondisi tak normal, sehingga menjadikannya hampir tidak mungkin membangkitkan kepekaan moral.— H. R. HM 68.1

224. Harus tetap ditonjolkan bahwa tujuan agung yang harus dicapai melalui saluran ini bukan hanya kesehatan, namun kesempurnaan dan roh kesucian, yang tidak bisa dicapai dengan tubuh dan pikiran yang berpenyakit.— T., jld . 1, hlm. 554. HM 68.2

225. Kuasa mental dan moral tergantung pada kesehatan fisik.— H. R. HM 68.3

226. Kesehatan fisik dan moral merupakan satu kesatuan yang erat.— H. to L., Bab. 2, hlm. 32. HM 68.4

Allah Disalahmengerti

227. Anak-anak Allah tidak dapat memuliakan dia dengan tubuh berpenyakit atau pikiran kerdil. Mereka yang menurutkan kata hati dalam segala jenis ketidakbertarakan, entah itu dalam makanan atau minuman, membuang energi fisik mereka dan melemahkan kuasa moral.— C. T ., hlm. 53. HM 68.5

228. Mereka yang kemampuan moralnya diperkeruh oleh penyakit, bukanlah dia yang mewakili kehidupan orang Kristen yang benar, untuk menunjukkan sukacita keselamatan atau keindahan dari kesucian. Mereka terlalu sering berada dalam semangat kefanatikan atau sama sekali tidak peduli atau diam dalam kegelapan.— S. of T., 1885, No. 42. HM 68.6

229. Sementara manusia yang mengaku saleh berpenyakit mulai dari ujung kepala sampai telapak kaki, sementara energi fisik, mental, dan moralnya dilemahkan melalui pemuasan selera merusak dan pekerjaan yang berlebihan, bagaimanakah mereka dapat mempertimbangkan bukti-bukti kebenaran, dan memahami persyaratan dari Allah? Jika kesanggupan moral dan intelektual mereka diredupkan, mereka tidak dapat menghargai nilai penebusan atau karakter mulia dari pekerjaan Allah, tidak juga dapat bersukacita dalam pembelajaran Sabda-Nya. Bagaimanakah bisa seorang berpenyakit selalu bersedia memberikan jawaban kepada tiap manusia yang meminta dia memberitahu alasan dari pengharapan yang ada di dalam dirinya, dengan kelemahan dan rasa takut?— T., jld. 1, hlm. 488. HM 68.7

230.Kesempurnaan dan roh kesucian tidak dapat dicapai de-ngan tubuh dan pikiran yang berpenyakit.— T., jld. 1, hlm. 554. HM 69.1