Hidup Yang Menyehatkan

7/62

Bab 6 - Akibat Melanggar Hukum Alam

72. Sebagai akibat pelanggaran hukum alam, pikiran dan jiwa akan dilemahkan... penderitaan fisik segala jenis tampak.... Penderitaan akan dihasilkan karena perbuatan ini. Kekuatan vital dari sistem tidak dapat menanggung tekanan yang diberikan, dan akhirnya akan rusak.— U. T., 30 Agustus 1896. HM 31.1

Penyebab Sakit

73. Tiap penyalahgunaan dari tiap bagian organ tubuh merupakan pelanggaran dari hukum yang Allah rancang untuk mengatur kita dalam hal-hal ini; dan dengan melanggar hukum ini, manusia merusak diri mereka sendiri. Sakit, segala jenis penyakit, jasmani yang cacat, kerusakan dini, kematian yang belum waktunya,—ini semua adalah akibat melanggar hukum alam.—U. T., 30 Agustus 1896. HM 31.2

74. Penyakit disebabkan oleh melanggar hukum kesehatan; ini akibat dari melanggar hukum alam.— T., jld. 3, hlm. 164. HM 31.3

75. Kesuraman dan kemurungan yang disangka hasil dari penurutan pada hukum moral Allah seringkali akibat tidak menghormati hukum fisik.— S. of T., 1885, No. 42. HM 32.1

Jiwa yang Berpenyakit

76. Segala hal yang menentang hukum alam menciptakan kondisi jiwa yang berpenyakit.— R. and H., 1881, No. 4. HM 32.2

77. Kekuatan moral dilemahkan karena manusia tidak akan hidup dalam penurutan kepada hukum kesehatan, dan membuat persoalan besar ini sebagai suatu kewajiban pribadi.— T., jld. 3, hlm. 140. HM 32.3

Kita Menuai Apa yang Kita Tabur

78. Tuhan telah menjadikan itu bagian dari rencana-Nya agar manusia menuai menurut apa yang ditaburnya. Dan ini adalah penjelasan dari kesengsaraan dan penderitaan di dunia kita, yang dituduhkan kembali pada Allah. Manusia yang melayani dirinya sendiri, dan menjadikan perutnya sebagai dewa, pasti akan menuai apa yang menjadi hasil dari pelanggaran hukum alam. Ia yang menyalahgunakan organ tubuh untuk memuaskan selera penuh hawa nafsu dan hasrat yang merendahkan akan membawa kesaksian yang sama pada air mukanya. Ia telah menabur dengan menurutkan hawa nafsu daging, dan yang pasti ia akan menyadari konsekuensinya. Ia seperti makhluk buruan; ia adalah budak bagi hawa nafsu, rantai yang tidak mau ia lepaskan. Dan pada akhirnya ia jauh dari Allah, tanpa keyakinan, tanpa kemurahan, tanpa pengharapan, untuk menghancurkan dirinya sendiri. Ia tinggal dalam proses alami dari kebiasaan merusak yang merendahkan dia di bawah ciptaan yang buruk. Dosanya telah menghancurkan mekanisme mesin hidup, dan hukum-hukum alam, yang dilanggar, menjadi penyiksanya.— U. T., 19 Mei 1897. HM 32.4

Pengendalian Kemauan

79. Setan mengetahui bahwa ia tidak dapat menaklukkan manusia kecuali ia dapat mengendalikan kemauannya. Ia dapat melakukan ini dengan menipu manusia agar mereka bersedia bekerjasama dengan dia dalam melanggar hukum alam, yang berarti melanggar hukum Allah.— U. T., 11 Januari 1897. HM 33.1

Setan Mencela Allah

80. Setan menggunakan taktik godaannya yang tampak bagus untuk mencela Allah. Ia menghadirkan di hadapan Allah penampakan manusia yang telah dibeli Kristus sebagai milik-Nya. Dan sungguh suatu pemandangan yang tak pantas dilihat oleh Penciptanya! Allah tidak dihormati, karena manusia telah berbuat jahat di hadapan Tuhan.— U. T., 11 Januari 1897. HM 33.2

81. Seorang manusia menjadi rekan Setan untuk menggoda, memikat, dan menipu sesamanya manusia terhadap kebiasaan jahat; dan pasti hasilnya adalah tubuh yang berpenyakit, karena pelanggaran hukum moral. “Karena ketidakadilan akan bertambah banyak, kasih banyak orang akan bertambah dingin.” Adalah maksud Setan untuk menipu keluarga manusia agar ia dapat membawa mereka sebagai rombongan yang ada dipihaknya, untuk bekerja bersama dia dalam membatalkan hukum Allah. Dengan demikian ia mendapati agen-agen yang menambahkan efisiensi. Dan saat mereka melakukan ini, ia menguasai mereka dengan tongkat besi. Dan bukan hanya umat manusia, namun ciptaan yang kejam itu juga dijadikan menderita melalui ulah buruk Setan pada agen manusia.— U. T., 11 Januari 1897. HM 33.3