Nasihat Bagi Sidang

202/279

Anda Bukanlah Milik Anda Sendiri

Kita tidak ragu-ragu bahwa Kristus akan segera datang. Bagi kita ini bukanlah suatu dongeng, melainkan suatu hal yang sungguh. Pada waktu kedatangan-Nya Dia bukannya menyucikan kita daripada dosa, tidak pula akan menghapuskan kekurangan tabiat kita, atau menolong kita daripada dosa, Dia bukannya akan menghapuskan kekurangan kita, atau menolong kita dalam kelemahan kita atau sifat dan tingkah laku kita. Jika hal tersebut dibuatnya bagi kita, maka itu telah dicapai sebelum kedatangan-Nya itu. NBS 232.4

Apabila Tuhan datang, orang suci sudah menjadi suci. Mereka yang sudah memeliharakan tubuh dan jiwanya dalam kesucian, maka penyucian dan kehormatan akan mengalami penyempurnaan pengabdian itu. Tetapi mereka yang tidak jujur, tidak disucikan dan yang najis akan tetap demikian selama-lamanya. Mereka tidak akan disucikan daripada kelemahan dan tiada akan diberikan kepada mereka itu tabiat suci, karena perkara ini akan dicapai selama masa pintu kasihan terbuka. Sekaranglah hal-hal ini harus dicapai di dalam diri kita. NBS 232.5

Kita sedang berada dalam dunia yang menentang kebenaran dan kesucian tabiat dan pertumbuhan sifat-sifat yang baik. Ke mana pun kita mengalihkan pandangan kita akan melihat kemerosotan dan kenajisan, kerusakan dan dosa. Jadi apakah yang harus dilakukan sebelum menerima kebakaan? Kita harus menjaga kesucian tubuh kita, kebersihan jiwa, agar kita tetap tidak bercacat di tengah-tengah kemerosotan sekeliling kita pada akhir zaman ini. NBS 232.6

” Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! NBS 232.7

Atau tiadakah kamu mengetahui bahwa tubuhmu itulah rumah Roh Kudus yang diam di dalammu itu, yang telah kamu peroleh daripada Allah, dan bukan kamu yang memiliki dirimu sendiri? Karena kamu sudah dibeli dengan harga tunai. Sebab itu hendaklah kamu memuliakan Allah dengan tubuhmu.” 1 Korintus 6:19,20. NBS 233.1

Kita bukanlah milik kita sendiri. Kita telah dibeli dengan harga tunai dengan harga mahal, yaitu dengan penderitaan dan kematian anak Allah. Jika kita memahami hal ini, dan menyadari akan arti yang sesungguhnya, kita akan merasakan suatu tanggung jawab yang paling tinggi, agar kita dapat memberikan perbaktian yang sempurna kepada Allah. Kita berdosa kepada Allah apabila kita melemahkan daya tahan tubuh kita atau mengurangi kekuatan kita atau pun melemahkan pikiran kita. Dengan yang demikian kita tidak memuliakan Dia di dalam tubuh dan jiwa kita, malah pada pemandangan-Nya kita melakukan kesalahan yang besar.3 Penurutan Bersifat Pribadi NBS 233.2

Khalik manusialah yang sudah menyusun alat-alat yang hidup pada bagian tubuh manusia. Dengan kebijaksanaan dan ajaib dibuatnya setiap fungsinya. Allah sendiri berjanji memeliharakan alat-alat yang di dalam diri manusia ini dalam keadaan sehat bila manusia itu sendiri mentaati hukum-Nya dan bekerja sama dengan Allah. Setiap hukum yang mengatur alat tubuh manusia adalah sama-sama berasal dari Allah sama seperti tabiat dan kegunaannya sama seperti firman Allah itu. Setiap kelalaian dan perbuatan yang kurang hati-hati, pengrusakan apa pun yang dilakukan terhadap mesin tubuh manusia yang Tuhan jadikan dengan ajaib itu, dengan meremehkan hukum-hukum-Nya dalam tubuh. Kita dapat saja memandang dan mengagumi alam ciptaan Tuhan, tetapi bagian tubuh manusia adalah yang paling ajaib.4 NBS 233.3

Oleh karena hukum alam itu adalah hukum Allah, jelaslah bahwa kita bertanggung jawab mempelajari hukum alam itu. Kita wajib mempelajari hukum alam yang berhubungan dengan tubuh kita serta menghidupkannya. Tidak mengetahui akan hal ini adalah dosa. NBS 233.4

Apabila pria dan wanita sungguh-sungguh bertobat, mereka dengan penuh kesadaran akan menjunjung tinggi undang-undang kehidupan yang sudah ditanamkan Allah di dalam dirinya, dengan demikianlah mereka berusaha menghindarkan kelemahan jasmani, pikiran dan moral. Ketaatan terhadap undang-undang ini haruslah menjadi urusan pribadi. Kita sendirilah yang harus menanggung akibat-akibat buruk pelanggaran hukum tersebut. Kita mempertanggungjawabkan kebiasaan dan tindakan kita kepada Allah. Oleh karena itu pertanyaan kita bukanlah, “Apakah yang akan dikatakan oleh dunia?” melainkan, “Sementara mengaku seorang Kristen, bagaimanakah saya akan melayani tubuh saya yang dikaruniakan Allah ini? Patutkah saya berusaha demi kebaikan jasmani dan rohani saya yang tertinggi oleh memeliharakan tubuh saya sebagai kediaman Roh Kudus, atau patutkah saya mengorbankan diri demi hidup dan gagasan duniawi?5 NBS 233.5