Kerinduan Segala Zaman — 1

20/44

19 — DI SUMUR YAKUB

DALAM perjalanan ke Galilea Yesus berjalan melalui Samaria. Kira-kira tengah hari tibalah Ia di lembah Sikhem yang permai. Begitu memasuki lembah ini. Karena sudah letih dari perjalanan-Nya, duduklah Ia di sini untuk beristirahat sementara murid-murid-Nya pergi membeli makanan. KSZ1 185.1

Bangsa Yahudi dan bangsa Samaria bermusuhan keras dan sedapatdapatnya menghindarkan segala hubungan satu dengan yang lain. Berjual beli dengan orang Samaria dalam keadaan perlu dianggap sah oleh rabi-rabi; tetapi semua urusan sosial dengan mereka dilarang. Seorang Yahudi tidak mau meminjam dari orang Samaria, ataupun menerima sesuatu kebaikan bahkan sesuap roti atau secangkir air sekalipun. Dalam membeli makanan itu, murid-murid bertindak sesuai dengan adat bangsa mereka. Tetapi mereka tidak berbuat lebih dari itu. Meminta pertolongan dari orang Samaria, atau dengan cara apa pun berusaha menolong mereka, tidak masuk akal bagi murid-murid Kristus sekalipun. Sedang Yesus duduk di pinggir sumur itu, Ia merasa lemas karena lapar dan haus. Sudah jauh sekali perjalanan yang ditempuh sejak paginya, dan sekarang teriknya panas matahari siang hari sedang menimpa Dia. Dahaga-Nya semakin terasa mengingat air sejuk dan menyegarkan yang begitu dekat, namun yang tidak dapat diperoleh-Nya; sebab Ia tidak punya tali ataupun timba, sedangkan sumur itu dalam. Ia menderita nasib manusia, maka dinantikan-Nyalah orang datang menimba air. KSZ1 185.2

Seorang wanita Samaria datang, dan seolah-olah tidak sadar akan ha-dirat-Nya, ia mengisi kendinya dengan air. Waktu ia berpaling hendak pergi, Yesus meminta air minum dari padanya. Permintaan yang begitu tidak akan ditolak oleh orang Timur mana pun. Di Timur, air disebut pemberian Allah. Menawarkan air minum kepada seorang pengembara yang haus dianggap sebagai suatu kewajiban yang begitu suci sehingga orang Arab di padang belantara mau menyimpang dari perjalanannya agar dapat melakukannya. Keben cian antara orang Yahudi dan orang Samaria mencegahkan wanita itu dari menawarkan sesuatu kebajikan kepada Yesus; tetapi Juruselamat sedang berusaha hendak mendapatkan kunci hati wanita itu, dan dengan kecerdikan yang lahir dari kasih Ilahi, Ia meminta pertolongan, bukan menawarkannya. Tawaran kebajikan mungkin akan ditolak; tetapi percaya menggugah percaya. Raja surga datang kepada jiwa terbuang ini, memohonkan layanan dari padanya. Dia yang menjadikan laut, yang mengendalikan samudera luas lepas, yang membuka segala mata air dan saluran di bumi ini, mengaso dari kepenatan-Nya di sumur Yakub, dan bergantung pada kemurahan hati seorang yang tidak dikenal untuk pemberian secangkir air minum saja. KSZ1 186.1

Wanita itu melihat bahwa Yesus adalah seorang Yahudi. Dalam keheranannya ia lupa mengabulkan permintaan-Nya itu, tetapi berusaha mempelajari sebab-sebab permintaan itu. “Masakan Engkau,” sahutnya, “Seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” KSZ1 186.2

Yesus menjawab, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan sia-pakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! Niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.” Engkau heran mengapa Aku meminta dari padamu pertolongan yang begitu kecil yaitu seteguk air dari sumur yang di kaki kita ini. Sekiranya engkau meminta dari pada-Ku, maka Aku tentu memberi kepadamu air hidup yang kekal. KSZ1 186.3

Wanita itu belum mengerti akan ucapan Kristus itu, akan tetapi ia me-rasakan maknanya yang dalam. Caranya yang menganggap remeh dan menantang itu pun mulailah berubah. Karena menyangka bahwa Yesus berbicara tentang sumur yang di depan mereka, ia pun berkata, “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? Adakah Engkau lebih besar daripada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya?” Ia melihat di depannya hanya se-orang pengembara yang kehausan, letih dari perjalanan dan penuh debu. Dalam pikirannya dibandingkannya Dia dengan Yakub, nenek moyang yang terhormat itu. Ia merasa bangga dengan sewajarnya bahwa tidak ada sumur lain lagi yang dapat disamakan dengan sumur yang disediakan oleh nenek moyang itu. Ia sedang menoleh ke belakang kepada para nenek moyang, dan ke depan pada hari kedatangan Mesias itu, sementara Harapan segala nenek moyang itu, yakni Mesias sendiri, sudah berada di sampingnya, tetapi ia tidak mengenal Dia. Betapa banyaknya jiwa yang haus sekarang ini ada di dekat pancaran air hidup, namun mereka memandang jauh untuk mendapat mata air hidup! “Jangan katakan di dalam hatimu: ‘Siapakah akan naik ke surga?’ yaitu: untuk membawa Yesus turun, atau: ‘Siapakah akan turun ke jurang maut?’ yaitu: untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati.... Firman itu dekat kepa-damu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.... Jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Roma 10:6-9. KSZ1 186.4

Yesus tidak segera menjawab pertanyaan yang mengenai diri-Nya itu, tetapi dengan kesungguhan yang tekun Ia berkata, “Baragsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam hatinya yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” KSZ1 187.1

Orang yang berusaha memuaskan dahaganya pada mata air dunia ini, akan minum hanya untuk kemudian haus lagi. Di mana-mana manusia tidak merasa puas. Mereka itu senantiasa menginginkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan jiwa. Hanya seorang yang dapat memenuhi kebu-tuhan itu. Kebutuhan dunia ini, “kerinduan segala bangsa,” ialah Kristus. Rahmat Ilahi yang dapat dikaruniakan hanya oleh-Nya sendiri, adalah seperti air hidup yang menyucikan, menyegarkan, serta menguatkan jiwa. KSZ1 187.2

Yesus tidak mengemukakan pendapat bahwa hanya seteguk air hidup saja akan memuaskan dahaga sipenerima itu. Orang yang mengecap kasih Kristus pasti akan selalu merindukan lebih banyak lagi; tetapi ia tidak mencari apa-apa lagi selain itu. Kekayaan, kehormatan, dan kesenangan dunia ini tidak menarik hatinya lagi. Seruan yang tetap dari hatinya ialah, “Lebih banyak yang dari pada-Mu.” Maka Dia yang menyatakan kepada jiwa tentang kebutuhannya, menanti untuk memuaskan lapar dan dahaganya. Setiap sumber dan andalan manusia akan gagal. Segala tempat cadangan air akan menjadi kosong, dan segala kolam akan menjadi kering; akan tetapi Juruselamat kita adalah suatu mata air yang tak keringkeringnya. Kita boleh minum, dan minum lagi, dan selamanya mendapat persediaan yang segar. Ia yang di dalamnya Kristus bersemayam, memiliki di dalam dirinya sendiri mata air berkat,—” yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Dari sumber ini ia dapat menimba tenaga dan rahmat yang cukup untuk segala keperluannya. KSZ1 188.1

Ketika Yesus berbicara tentang air hidup itu, wanita itu memandang kepada-Nya dengan perhatian yang penuh kekaguman. Ia telah mem-bangkitkan perhatian wanita itu, serta menyadarkan suatu kerinduan un-tuk memperoleh karunia yang dikatakan-Nya itu. Wanita itu mengerti bahwa bukannya air sumur Yakub itu yang dibicarakan-Nya; sebab air sumur ini selalu dipakainya, diminumnya, dan haus kembali. “Tuhan,” katanya: “Berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.” KSZ1 188.2

Kini Yesus dengan mendadak mengalihkan pembicaraan itu. Sebelum jiwa ini dapat menerima karunia yang hendak dianugerahkan-Nya itu, ia harus diajar dulu untuk mengenal dosanya dan Juruselamatnya. Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, panggilah suamimu dan datang ke sini. Kata perempuan itu: Aku tidak mempunyai suami.” KSZ1 188.3

Pendengar itu gemetar. Suatu tangan ajaib sedang membuka lembaran riwayat hidupnya, serta memaparkan apa yang telah diharapkannya akan tersembunyi selama-lamanya. Siapakah gerangan Dia yang dapat membaca segala rahasia hidupnya ini? Teringatlah ia akan perkara-perkara yang kekal, tentang hari Penghakiman yang akan datang, apabila segala perkara yang tersembunyi sekarang ini akan dinyatakan kelak. Mengingat hal itu, tergugahlah angan-angan hatinya. KSZ1 188.4

Suatu pun tidak dapat disangkalnya; tetapi ia berusaha mengelakkan semua sebutan tentang sesuatu pokok pembicaraan yang tidak terlalu di-sukai. Dengan rasa hormat yang sungguh, berkatalah ia, “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.” Lalu, dengan berharap hendak mendiamkan keyakinan itu, beralihlah ia kepada pokok-pokok pertentangan agama. Jika ia seorang nabi, sudah tentu Ia dapat memberi-kan kepadanya petunjuk tentang persoalan yang sudah sekian lamanya diperdebatkan . KSZ1 189.1

Dengan sabarbya Yesus membiarkan dia menuntun percakapan itu sekehendak hatinya. Sementara itu dinantikan-Nya kesempatan untuk menjelaskan kebenaran itu dalam hatinya “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.” Gunung Gerizim nampak dari tempat itu. Bait Sucinya sudah dimusnahkan, dan hanya mezbahnya yang masih ada. Tempat sembahyang itu telah menjadi pokok perbantahan antara orang Yahudi dan orang Samaria. Beberapa dari nenek moyang bangsa yang dahulu pernah termasuk bangsa Israel; tetapi karena dosa-dosanya, Tuhan mem-biarkan mereka dikalahkan oleh sesuatu bangsa penyembah berhala. Turun temurun mereka bercampur gaul dengan para penyembah berhala, yang agamanya berangsur-angsur menajiskan agama mereka sendiri. Memang mereka percaya bahwa berhala-berhala mereka hanyalah untuk mengingatkan mereka tentang Allah yang hidup, Pemerintah alam se-mesta; namun orang terpengaruh untuk menghormati patung-patung ukiran mereka itu. KSZ1 189.2

Ketika Bait Suci di Yerusalem dibangun kembali pada zaman Ezra, bangsa Samaria itu ingin menggabungkan diri dengan bangsa Yahudi dalam pembangunan itu. Kesempatan mulia ini tidak diberikan kepada mereka, dan timbullah perseteruan yang pahit antara kedua bangsa itu. Bangsa Samaria membangun bait suci saingan di Gunung Gerizim. Di sini mereka berbakti sesuai dengan upacara keagamaan Musa, sungguh pun mereka tidak meninggalkan penyembahan berhala seluruhnya. Tetapi malapetaka menimpa mereka, bait suci itu dibinasakan oleh musuhmusuh mereka, dan nampaknya mereka itu seolah-olah terkutuk; namun mereka masih berpaut pada tradisi-tradisi dan upacara-upacara perbaktian mereka. Mereka tidak mau mengakui Bait Suci di Yerusalem itu se-bagai rumah Allah, ataupun mengakui bahwa agama bangsa Yahudi itu lebih unggul daripada agama mereka. KSZ1 189.3

Untuk menjawab pertanyaan wanita itu, Yesus berkata, “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan me-nyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.” Yesus telah menunjukkan bahwa Ia bebas dari prasangka bangsa Yahudi terhadap bangsa Samaria. Sekarang la berusaha hendak merubuhkan prasangka wanita Samaria itu terhadap orang Yahudi. Sementara menunjuk kepada kenyataan bahwa iman bangsa Samaria sudah dinajiskan oleh penyem-bahan berhala, Ia mengatakan bahwa kebenaran-kebenaran utama tentang penebusan telah diamanatkan kepada bangsa Yahudi, dan bahwa dari antara mereka itulah Mesias akan datang. Dalam Tulisan-tulisan Suci mereka mendapat keterangan yang jelas tentang tabiat Allah dan asas-asas pemerintahan-Nya. Yesus menggolongkan diri-Nya sendiri dengan bangsa Yahudi sebagai bangsa yang telah dikaruniai Allah suatu pengetahuan tentang diri-Nya. KSZ1 190.1

Ia ingin mengangkat pikiran para pendengar-Nya di atas soal-soal yang menyangkut tatacara dan upacara belaka, serta soal-soal pertentangan. ‘Tetapi saatnya akan datang,” kata-Nya, “Dan sudah tiba sekarang bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” KSZ1 190.2

Di sini dinyatakan kebenaran yang sama yang telah dinyatakan oleh Yesus kepada Nikodemus ketika Ia berkata, “Jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yohanes 3:3. Bukannya oleh mencari sesuatu gunung yang suci atau sesuatu rumah ibadah yang suci maka manusia dibawa ke dalam persekutuan dengan surga. Agama tidak boleh dibatasi di dalam upacara secara lahir saja. Agama yang berasal dari pada Allah ialah satu-satunya agama yang akan menuntun kepada Allah. Untuk dapat berbakti kepada-Nya dengan benar, kita harus dilahirkan dari Roh Ilahi. Ini akan menyucikan hati serta memperbarui pikiran, memberikan kepada kita suatu kesanggupan yang baru untuk mengenal serta mengasihi Allah. Akan diberikannya kepada kita sebuah penurutan sukarela kepada segala tuntutan-Nya. Inilah perbaktian yang benar. Itulah hasil kerja Roh Kudus. Oleh Roh setiap doa yang sungguh-sungguh disusun, dan doa semacam itu berkenan kepada Allah. Di mana saja suatu jiwa mencari Allah, nyatalah di sana pekerja Roh itu, dan Allah akan menyatakan diri-Nya kepada jiwa itu. Para penyembah yang demikianlah dicari Allah. Ia menanti hendak menerima mereka dan untuk menjadikan anak-anak-Nya. KSZ1 190.3

Sementara berbicara dengan Yesus, wanita itu merasa terharu oleh perkataan-Nya. Belum pernah ia mendengar perasaan serupa itu dari imam-imam sebangsanya ataupun dari orang Yahudi. Setelah masa hidupnya yang lampau dipaparkan di hadapannya, ia sangat merasakan ke-perluannya yang besar. Ia sadar akan kehausan jiwanya, yang tidak dapat dipuaskan oleh air sumur di Sikhar itu. Tiada suatu apa pun yang berhu-bungan dengan dia hingga kini yang begitu menyadarkan dia kepada sesuatu kebutuhan yang lebih tinggi. Yesus telah meyakinkan dia bahwa Ia dapat membaca segala rahasia hidupnya; namun ia merasa bahwa Ialah sahabatnya, yang berbelas kasihan serta mengasihi dia. Meskipun ke-sucian hadirat-Nya mencela dosanya, namun Ia tidak mengeluarkan ucapan tuduhan, melainkan telah memberitahukan kepadanya tentang rahmat-Nya, yang dapat memperbarui jiwa. Mulailah ia mendapat se-suatu keyakinan tentang tabiat-Nya. Timbullah pertanyaan dalam pikir-annya, katanya kepada Yesus “Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.” Kata Yesus kepadanya: “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.” KSZ1 191.1

Ketika wanita itu mendengar ucapan ini, timbullah kepercayaan dalam hatinya. Diterimanya pengumuman yang ajaib dari bibir Guru Ilahi itu. KSZ1 191.2

Wanita itu berada dalam keadaan pikiran yang mau menghargai. Ia bersedia menerima pernyataan yang paling mulia; sebab ia menaruh per-hatian pada Alkitab, dan Roh Suci telah menyediakan pikirannya untuk menerima lebih banyak terang. Ia telah mempelajari janji Perjanjian La-ma, “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-sauda-ramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh Tuhan, Aliahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.” Ulangan 18:15. Ia rindu hendak mengerti nubuatan ini. Terang telah memancar ke dalam pikirannya. Air hidup, yakni kehidupan rohani yang dikaruniakan Kristus kepada tiaptiap jiwa yang haus telah mulai memancar dalam hatinya. Roh Tuhan sudah bekerja dalam dirinya. KSZ1 191.3

Ucapan tegas yang diberikan oleh Kristus kepada wanita ini tidak akan dapat diucapkan kepada orang Yahudi yang membenarkan diri sendiri. Kristus lebih menahan diri apabila Ia berbicara kepada mereka itu. Apa yang tidak diberikan kepada orang Yahudi, dan yang kemudian hari dianjurkan supaya dirahasiakan oleh murid-murid, dinyatakan kepada wanita itu. Yesus melihat bahwa ia akan menggunakan pengetahuannya itu untuk membawa orang lain pula guna mengambil bagian dari rahmat-Nya. KSZ1 192.1

Ketika murid-murid kembali, mereka terkejut melihat Guru mereka berbicara dengan wanita itu. Ia belum meminum air menyegarkan yang diingini-Nya itu, dan Ia tidak berhenti untuk memakan makanan yang telah dibawa oleh murid-murid-Nya itu. Setelah wanita itu pergi, muridmurid-Nya membujuk Dia supaya makan. Mereka lihat Dia diam, asyik berpikir, seperti dalam renungan yang tekun. Wajahnya berseri-seri dengan cahaya, dan mereka takut mengganggu hubungan-Nya dengan surga itu. Tetapi mereka tahu bahwa Ia lemas sekali dan penat, dan mereka merasa wajib mengingatkan Dia akan kebutuhan badani-Nya. Yesus tahu akan perhatian mereka yang didorong oleh kasih, lalu Ia berkata, “PadaKu ada makanan yang tidak kamu kenal.” KSZ1 192.2

Murid-murid itu heran siapa gerangan yang telah membawakan Dia makanan; tetapi dijelaskan-Nya, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Yoha-nes 4:34. Ketika perkataan-Nya kepada wanita itu telah membangkit-kan kesadaran hatinya, Yesus bersukaria. Ia melihat dia meminum air hidup, lalu perasaan lapar dan haus-Nya sendiri pun dipuaskan. Terwujudnya tugas yang untuk pelaksanaannya Ia telah meninggalkan surga, menguatkan Juruselamat untuk pekerjaan-Nya, serta mengangkat Dia melebihi segala kebutuhan kemanusiaan. Melayani seseorang yang sedang lapar dan haus akan kebenaran lebih menyenangkan bagi-Nya daripada makan atau minum. Itulah suatu penghiburan, suatu penyegaran bagi-Nya. Kebajikan adalah nyawa jiwa-Nya. KSZ1 192.3

Penebus kita haus akan pengenalan. Ia lapar akan simpati dan kasih orang-orang yang telah dibeli-Nya dengan darah-Nya sendiri. Ia rindu dengan keinginan yang tak terperikan kiranya mereka datang kepadaNya lalu mendapat kehidupan. Sebagaimana ibu menantikan senyum pengenalan dari anaknya yang masih kecil, yang menandakan mulainya kecerdasan, demikian juga Kristus menantikan pernyataan kasih penuh syukur yang menunjukkan hidup kerohanian sudah mulai di dalam jiwa. KSZ1 193.1

Wanita itu telah dipenuhi dengan sukacita sementara ia mendengarkan perkataan Kristus. Pernyataan yang ajaib itu hampir menaklukkan. De-ngan meninggalkan kendinya, pulanglah ia ke kota, untuk menyampai-kan kabar itu kepada orang-orang lain. Yesus tahu mengapa ia pergi meninggalkan kendinya sudah tentu menunjukkan pengarah perkataanNya. Adalah kerinduan jiwanya yang sungguh-sungguh hendak mem-peroleh air hidup itu, maka lupalah ia pada tugasnya ke sumur itu, serta pada rasa dahaga Juruselamat yang tadinya hendak dipuaskannya. Dengan hati yang meluap-luap dengan kegirangan pergilah ia dengan tergesa-gesa, hendak memberitahukan kepada orang-orang lain terang yang indah yang telah diterimanya itu. KSZ1 193.2

“Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat,” katanya. “Mungkinkah Dia Kristus itu?” Ucapannya itu menjamah hati mereka. Ada sesuatu pernyataan yang baru di wajahnya, suatu perubahan di dalam seluruh pembawaannya. Mereka itu ingin melihat Yesus. “Maka keluarlah mereka itu dari dalam negeri pergi mendapatkan Yesus.” KSZ1 193.3

Selagi Yesus duduk di pinggir sumur itu, Ia memandang ke ladang gandum yang terhampar di hadapan-Nya, dengan daunnya yang hijau dan lembut disinari cahaya matahari keemasan. Dengan mengalihkan perhatian murid-murid-Nya kepada pemandangan itu, Ia menggunakan-nya sebagai suatu perumpamaan: “Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihat-lah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.” Maka sedang Ia mengatakan hal itu, dilihatNya rombongan yang sedang datang ke sumur itu. Empat bulan lagi baru tiba musim menuai gandum, tetapi di sini sudah ada suatu panen yang sudah sedia akan dituai. KSZ1 193.4

“Sekarang juga penuai,” kata-Nya, “Telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita. Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: yang seorang menabur dan yang lain menuai.” Di sini Kristus menunjukkan tugas suci yang harus ditunaikan bagi Allah oleh orang-orang yang menerima Injil itu. Mereka harus menjadi alat-alat-Nya yang hidup. Ia meminta pelayanan mereka masing-masing. Baik menabur maupun menuai, kita bekerja bagi Allah. Seorang menaburkan bibit; yang lain mengumpulkan pada musim menuai; dan baik penabur maupun penuai itu mendapat upah. Mereka bersuka bersama-sama dalam pahala pekerjaan mereka. KSZ1 194.1

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya itu, “Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka .” Juruselamat di sini sedang memandang ke muka kepada pengumpulan besar pada hari Pentakosta. Murid-murid itu tidak boleh memandang hal ini sebagai hasil usaha mereka sendiri. Mereka sedang memasuki pekerjaan orang-orang lain. Semenjak kejatuhan Adam, Kristus telah selamanya mempercayakan benih firman-Nya itu kepada hamba-hamba pilihan-Nya, untuk ditaburkan di dalam hati manusia. Dan suatu alat yang tidak kelihatan, yaitu suatu kuasa yang mahabesar, telah bekerja diam-diam tetapi sangat berhasil untuk menghasilkan panen. Embun dan hujan dan sinar matahari rahmat Allah telah diberikan, untuk menyegarkan serta menghidupkan benih kebenaran itu. Kristus sudah hampir menyirami benih itu dengan darahNya sendiri. Murid-murid-Nya diberi kesempatan yang mulia untuk bekerja sama dengan Allah. Mereka adalah teman sekerja Kristus dan orang-orang saleh pada zaman purba. Dengan dicurahkan-Nya Roh Kudus pada hari Pentakosta, beribu-ribu orang akan ditobatkan dalam sehari. Ini adalah hasil penaburan Kristus, panen pekerjaan-Nya. KSZ1 194.2

Dalam perkataan yang diucapkan kepada wanita di pinggir sumur itu, bibit baik telah ditaburkan, dan betapa segera panennya diperoleh. Orang-orang Samaria itu datang dan mendengarkan Yesus serta percaya pada-Nya. Dengan mengerumuni Dia di sumur itu, mereka menghadapkan pertanyaan-pertanyaan kepada-Nya, dan dengan hasrat yang besar menerima segala keterangan-Nya tentang banyak perkara yang selama itu tidak jelas bagi mereka. Sementara mereka mendengar, kebingungan mereka pun lenyap. Mereka bagaikan suatu umat yang berada dalam kegelapan besar yang melihat cahaya yang memancar dengan tiba-tiba hingga mereka mencapai siang hari. Akan tetapi mereka belum merasa puas dengan pertemuan yang singkat ini. Mereka masih ingin mendengar lebih jauh, dan supaya sahabat-sahabat mereka juga mendengarkan Guru ajaib itu. Mereka mengundang Dia ke kota mereka serta memohon ke-pada-Nya supaya tinggal dengan mereka. Dua hari lamanya Ia tinggal di Samaria, dan banyak lagi yang percaya pada-Nya. KSZ1 194.3

Orang Farisi memandang hina kesederhanaan Yesus. Mereka menga-baikan segala mukjizat-Nya, dan meminta suatu tanda bahwa Ia adalah Anak Allah. Tetapi orang Samaria itu tidak meminta sesuatu tanda apa pun, dan Yesus tidak mengadakan mukjizat di antara mereka, kecuali da-lam menyatakan rahasia hidupnya kepada wanita di sumur itu. Namun banyak orang yang menerima Dia. Dalam kegembiraan mereka yang baru itu berkatalah mereka kepada wanita itu, “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.” KSZ1 195.1

Orang Samaria percaya bahwa Mesias akan datang sebagai Penebus, bukan hanya bagi bangsa Yahudi, tetapi juga bagi dunia. Roh Kudus de-ngan perantaraan Musa telah menubuatkan Dia sebagai seorang nabi yang datang dari Allah. Dengan perantaraan Yakub telah dikatakan bahwa kepada-Nya segala bangsa akan menurut; dan dengan perantaraan Abraham, bahwa dalam Dialah segala bangsa di dunia ini diberkati. Di atas ucapan Alkitab inilah bangsa Samaria itu mengalaskan iman mereka pada Mesias. Bangsa Yahudi telah salah menafsirkan nabi-nabi yang be-lakangan, dengan menganggap bahwa kemuliaan kedatangan Kristus yang kedua kali akan dialami pada kedatangan-Nya yang pertama kali. Itulah sebabnya orang Samaria mengabaikan semua tulisan suci kecuali yang diberikan dengan perantaraan Musa. Tetapi ketika Juruselamat menghapus semua tafsiran yang salah ini, banyak yang menerima nubuatan-nubuatan itu dan juga perkataan Kristus sendiri mengenai ke-rajaan Allah. Yesus sudah mulai merubuhkan tembok pemisah antara orang Yahudi dan orang kafir, dan memasyhurkan kabar keselamatan kepada dunia. Walaupun Ia seorang Yahudi, Ia bergaul bebas dengan orang Samaria, meniadakan adat istiadat Keparisian bangsa-Nya. Di tengah prasangka mereka Ia menerima sikap ramah tamah dari bangsa yang dibenci itu. Ia tidur di rumah mereka, makan sehidangan dengan mereka, ikut menikmati makanan yang disediakan dan dihidangkan oleh tangan mereka, mengajar di jalan raya mereka, serta memperlakukan mereka dengan sangat murah hati dan sopan santun. KSZ1 195.2

Dalam Bait Suci di Yerusalem sebuah tembok yang rendah memisahkan halaman sebelah luar dari segala bagian lain dari bangunan yang suci itu. Pada tembok ini ada tulisan dalam bermacam-macam bahasa, yang mengatakan bahwa tidak seorang pun kecuali orang Yahudi diizinkan melalui batas ini. Sekiranya seorang kafir dengan ceroboh berani masuk ke dalam ruangan sebelah dalam itu, ia sudah menajiskan Bait Suci itu, dan sudah tentu ia akan membayar hukuman dengan nyawanya sendiri. Tetapi Yesus pencipta Bait Suci dan segala upacaranya itu, menarik orang kafir itu kepada-Nya dengan ikatan simpati manusia, sementara rahmat Ilahi-Nya membawakan kepada mereka keselamatan yang ditolak oleh orang Yahudi. KSZ1 196.1

Yesus tinggal di Samaria dengan maksud untuk mendatangkan berkat kepada murid-murid-Nya, yang masih di bawah pengaruh kefanatikan Yahudi. Mereka merasa bahwa kesetiaan kepada bangsa mereka sendiri meminta supaya mereka memelihara permusuhan terhadap orang Samaria. Mereka heran melihat kelakuan Yesus. Mereka tidak dapat menolak untuk mengikuti teladan yang diberikan-Nya itu, dan selama dua hari di Samaria, kesetiaan kepada-Nya menguasai segenap prasangka mereka; namun dalam hati mereka tidak merasa senang. Sangat lambat bagi mereka untuk memahami bahwa penghinaan dan kebencian mereka harus memberi tempat bagi belas kasihan dan simpati. Tetapi setelah Tuhan naik ke surga, pelajaran-pelajaran yang diberikan-Nya itu datang kembali kepada mereka dengan suatu arti yang baru. Setelah kecurahan Roh Kudus, mereka pun terkenanglah akan pandangan Juruselamat, perkataan-Nya, penghormatan dan kelembutan pembawaan-Nya terhadap orang-orang asing yang terhina itu. Waktu Petrus pergi memasyhurkan Injil di Samaria, ia membawa roh seperti itu dalam pekerjaannya sendiri. Ketika Yohanes dipanggil ke Efesus dan Smirna, terkenanglah ia akan pengalaman di Sikhem itu, lalu ia dipenuhi dengan perasaan syukur kepada Guru Ilahi, yang oleh melihat lebih dahulu segala kesukaran yang harus mereka hadapi, telah memberikan kepada mereka pertolongan dalam teladan-Nya sendiri. KSZ1 196.2

Juruselamat masih menjalankan pekerjaan yang sama seperti ketika Ia menawarkan air hidup kepada wanita Samaria itu. Orang-orang yang menyebut dirinya pengikut-pengikut-Nya, boleh jadi menghina serta menghindar orang-orang terbuang itu; tetapi tiada keadaan kelahiran atau kebangsaan, tiada keadaan hidup, yang dapat menjauhkan kasih-Nya dari anak-anak manusia. Kepada setiap jiwa, meskipun berdosa, Yesus berkata, kalau engkau sudah meminta kepada-Ku, tentu saja Aku telah memberikan air hidup kepadamu. KSZ1 197.1

Undangan Injil itu tidak boleh dipersempit, dan disampaikan hanya kepada beberapa orang pilihan saja, yang menurut dugaan kita akan menghormati kita jika mereka menerimanya. Pekabaran itu wajib disampaikan kepada semua orang. Di mana saja hati terbuka untuk menerima kebenaran, Kristus bersedia untuk mengajar mereka. Ia menyatakan Bapa kepada mereka serta perbaktian yang berkenan kepada Dia yang membaca hati. Untuk orang-orang yang demikian Ia tidak menggunakan perumpamaan. Kepada mereka, seperti kepada wanita yang di sumur itu, Ia berkata, “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.” KSZ1 197.2

Ketika Yesus duduk beristirahat di sumur Yakub itu, Ia telah datang dari Yudea, di mana pekerjaan-Nya sangat sedikit hasilnya. Ia telah ditolak oleh imam-imam dan rabi-rabi, malahan orang-orang yang mengaku sebagai murid-murid-Nya pun tidak melihat tabiat Ilahi-Nya. Ia sudah lemas dan penat namun Ia tidak melalaikan kesempatan untuk berbicara kepada seorang wanita, meskipun ia seorang asing, yang berbeda dengan orang Israel, dan hidup di dalam dosa yang nyata. KSZ1 197.3

Juruselamat tidak menunggu himpunan banyak orang berkumpul. Acapkali Ia memulai pengajaran-Nya dengan hanya beberapa orang berkumpul di sekeliling-Nya, tetapi seorang demi seorang yang lalu di tempat itu berhenti untuk mendengar, hingga suatu kumpulan besar mendengarkan firman Allah yang diucapkan oleh Guru yang diutus dari surga itu dengan perasaan heran dan kagum. Pengerja Kristus sekali-kali jangan merasa bahwa ia tidak dapat berbicara dengan kesungguhan seperti itu kepada hanya sedikit pendengar seperti kepada kumpulan yang lebih besar. Mungkin hanya seorang yang mendengar pekabaran itu; tetapi siapakah yang dapat mengatakan berapa luasnya kelak pengarahnya? Perihal Juruselamat menggunakan waktu-Nya bagi seorang wanita Samaria tampaknya seolah-olah suatu perkara yang kecil saja, bahkan bagi murid-murid-Nya sekalipun. Tetapi Ia berbicara dengan lebih sungguh-sungguh dan lebih fasih lagi dengan dia dari dengan raja-raja, anggota-anggota majelis, atau imam-imam besar. Pelajaran yang diberikanNya kepada wanita itu telah diulang-ulangi hingga ke ujung bumi yang terjauh sekalipun. KSZ1 197.4

Segera sesudah ia mendapat Juruselamat, wanita Samaria itu membawa orang-orang lain pula kepada-Nya. Ia membuktikan dirinya seorang pengabar Injil yang lebih cakap daripada murid-murid Tuhan sendiri. Murid-murid itu tidak melihat suatu apa pun di Samaria yang menandakan bahwa tempat itu adalah ladang yang mengandung harapan. Pikiran mereka ditujukan kepada suatu pekerjaan besar yang akan dilaksanakan di kemudian hari. Mereka tidak melihat bahwa justru di sekeliling mereka ada sebuah panen yang harus dikumpulkan. Akan tetapi dengan perantaraan wanita Samaria yang mereka benci itu seluruh penduduk kota dibawa untuk mendengarkan Juruselamat. Ia membawa terang itu dengan segera kepada orang-orang senegerinya. KSZ1 198.1

Wanita itu menggambarkan bekerjanya iman yang praktis kepada Kristus. Tiap murid yang sejati dilahirkan ke dalam kerajaan Allah seba-gai seorang pengabar Injil. Orang yang minum air hidup itu menjadi mata air hidup pula. Penerima itu menjadi pemberi. Rahmat Kristus dalam jiwa adalah bagaikan mata air di padang belantara yang meluap-luap untuk menyegarkan semua orang, serta menjadikan mereka yang sudah hampir binasa ingin minum air hidup itu. KSZ1 198.2