Kerinduan Segala Zaman — 1

33/44

32 — SANG PERWIRA

KRISTUS mengatakan kepada bangsawan yang anak-Nya telah Ia sembuhkan: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mukjizat, kamu tidak percaya.” Yohanes 4:48. Ia sedih karena bangsa-Nya sendiri menuntut tanda-tanda ajaib secara luar ini, bahwa Dialah Mesias itu. Berulang-ulang Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. Tetapi Ia mengagumi iman perwira yang datang kepada-Nya. Perwira itu tidak menanyakan tentang kuasa Juruselamat. Ia tidak memohon supaya Kristus datang untuk mengadakan mukjizat. “Katakan saja sepatah kata,” katanya, “maka hambaku itu akan sembuh.” KSZ1 336.1

Hamba perwira itu diserang penyakit lumpuh, dan sudah hampir mati. Di kalangan orang-orang Roma hamba adalah budak, diperjual belikan di pasar-pasar, diperlakukan dengan kejam dan bengis; tetapi perwira itu memperlakukan hambanya dengan baik, dan ia sangat mengharapkan supaya hamba itu sehat kembali. Ia percaya bahwa Kristus dapat me-nyembuhkannya. Ia belum pernah melihat Juruselamat, tetapi berita-berita yang didengarnya menggerakkan imannya. Meskipun tatacara orang Yahudi, orang Roma ini telah diyakinkan bahwa agama mereka lebih tinggi daripada agamanya. Ia telah mematah rintangan prasangka dan kebencian kebangsaan yang memisahkan penjajah dengan yang dijajah. Ia telah menunjukkan rasa hormat terhadap pelayanan kepada Allah, dan menunjukkan keramahan kepada orang Yahudi selaku penyembah Dia. Di dalam ajaran Kristus, sebagaimana yang telah dilaporkan kepadanya, ia dapati apa yang memenuhi keperluan jiwa. Semua sifat rohani yang ada padanya menyambut firman Juruselamat. Tetapi ia merasa tidak layak menghadap Yesus dan ia meminta kepada tua-tua orang Yahudi untuk memohonkan kesembuhan hambanya. Mereka kenal sekali Guru Besar itu dan tahu cara mendekati-Nya sehingga dengan demikian dapat memenangkan belas kasihan-Nya. KSZ1 336.2

Ketika Yesus memasuki Kapernaum, Ia telah ditemui oleh suatu utus-an tua-tua, yang memberitahukan kepada-Nya keinginan perwira itu. Mereka mengatakan, “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami.” KSZ1 337.1

Dengan segera Yesus menuju rumah pejabat itu, tetapi oleh karena di-desak oleh orang banyak, Ia maju dengan pelahan. Kabar kedatanganNya mendahului Dia, dan perwira, di dalam kekurangpercayaan kepada dirinya sendiri, mengirim pesan kepada Yesus, “Tuan, janganlah ber-susah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku.” Tetapi Juruselamat meneruskan jalan-Nya, dan akhirnya perwira meng-hampiri Dia, melengkapi beritanya, lalu berkata, “Aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawah-an, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah se-orang prajurit itu: “Pergi! maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Da-tang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Sebagaimana aku mewakili kuasa Roma dan pra-jurit-prajuritku mengetahui kuasaku yang lebih tinggi, demikian pula Engkau mewakili kuasa Allah yang tiada batasnya dan segala sesuatu yang dijadikannya menurut firman-Mu. Engkau dapat memerintahkan supaya penyakit itu enyah daripadanya, dan akan diturutnya Engkau. Engkau dapat memanggil suruhan dari surga, dan mereka akan menyem-buhkannya. Katakan sajalah, hamba sahaya akan sembuh. KSZ1 337.2

“Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikut-Nya: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Dan kepada perwira itu Ia berkata: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya. Maka pada saat itu juga sem-buhlah hambanya.” KSZ1 337.3

Tua-tua orang Yahudi yang memuji perwira itu di hadapan Kristus te-lah menunjukkan betapa jauhnya mereka dari memiliki Roh Injil. Mereka tidak menyadari bahwa keperluan kita yang besar hanyalah tuntutan kita atas kemurahan Allah. Di dalam sifat mereka yang membenarkan diri sendiri mereka memuji perwira itu sebab ia telah menunjukkan kebaik-annya kepada “bangsa kita.” Tetapi perwira itu berkata tentang dirinya sendiri: “Aku tidak layak.” Hatinya telah dijamah oleh anugerah Kristus. Ia melihat ketidaklayakannya; tetapi ia takut tidak meminta pertolongan. Ia tidak bergantung kepada kebaikannya; alasannya merupakan keper-luannya yang besar. Imannya berpegang teguh pada Kristus, di dalam tabiat-Nya yang benar itu. Ia bukannya percaya kepada-Nya hanya karena mengadakan tanda-tanda ajaib, melainkan sebagai sahabat dan Jurusela-mat umat manusia. KSZ1 338.1

Itulah sebabnya maka setiap orang berdosa dapat datang kepada Kris-tus. “Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya.” Titus 3:5. Bila Setan me-ngatakan bahwa engkau seorang berdosa, dan tidak mempunyai harapan menerima berkat dari Allah, katakanlah kepadanya bahwa Kristus datang ke dunia ini untuk menyelamatkan orang berdosa. Kita tidak mempunyai sesuatu untuk memuji kita kepada Allah; tetapi permohonan yang kita pohonkan sekarang dan selamanya ialah ucapan kita yang dalam keadaan tidak berdaya sehingga menjadikan kuasa penebusan-Nya suatu keper-luan. Membuangkan sifat yang hanya berpaut pada diri sendiri, kita dapat memandang kepada salib Golgota dan berkata,— KSZ1 338.2

“Aku datang dengan tangan hampa,
Hanya bergantung pada salib-Mu.”
KSZ1 338.3

Orang-orang Yahudi telah dididik mulai dari kecilnya mengenai pe-kerjaan Mesias itu. Ucapan bapa-bapa dan nabi-nabi yang diilhamkan serta lambang ajaran upacara pengorbanan telah ada pada mereka. Tetapi mereka tidak mengindahkan terang itu. dan sekarang mereka melihat di dalam Yesus tidak ada yang mereka ingini. Tetapi perwira itu dilahirkan di dalam kekafiran, dididik di dalam berhala kerajaan Roma, dilatih sebagai seorang tentara, seolah-olah sama sekali lepas dari kehidupan rohani oleh pendidikan dan keadaan sekelilingnya, dan masih tetap diha-langi oleh kefanatikan orang-orang Yahudi, dan oleh hinaan bangsanya kepada orang Israel,—orang ini menerima kebenaran yang anak-anak Abraham buta terhadapnya. Ia tidak menunggu melihat apakah orangorang Yahudi sendiri akan menerima Seorang yang akan dimaklumkan menjadi Mesias mereka. Karena sebagai “terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.” (Yohanes 1:9) telah bercahaya padanya, ia telah dapat melihat kemuliaan Anak Allah walaupun dari jauh. KSZ1 338.4

Bagi Yesus inilah pekerjaan yang sungguh yakni kabar Injil diselesai-kan di antara orang kafir. Dengan gembira Ia melihat ke depan untuk me-ngumpulkan jiwa-jiwa dari segala bangsa ke dalam kerajaan-Nya. Dengan kesedihan yang mendalam Ia menggambarkan kepada orang-orang Yahudi akibat penolakan mereka akan kemurahan-Nya: “Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kera-jaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke da-lam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan ker-tak gigi.” Aduh, berapa banyak yang bersedia akan kekecewaan yang hebat itu! Sedangkan jiwa-jiwa orang kafir yang di dalam kegelapan me-nerima anugerah-Nya, berapa banyak orang di negeri Kristen di mana ada terang diabaikan begitu saja. KSZ1 339.1

Lebih dua puluh mil dari Kapernaum, di atas suatu daratan tempat da-pat menatap dengan luas keelokan Lembah Esdraelon, terdapatlah kam-pung Nain, dan kemudian Kristus menuju ke sana. Kebanyakan muridmurid-Nya dan orang-orang lain yang bersama-sama dengan Dia, dan sepanjang jalan orang banyak datang berduyun-duyun, rindu mende-ngarkan firman-Nya yang penuh kasih dan kemurahan, membawa orang sakit untuk disembuhkan-Nya, dan dengan pengharapan bahwa Ia yang berkuasa besar itu akan mengumumkan diri-Nya sendiri sebagai Raja orang Israel. Orang banyak mengikuti jalan-Nya, dan hal itu menggem-birakan sekali, rombongan yang penuh harapan itu mengikuti Dia men-daki jalan yang berbatu menuju gerbang kampung di gunung itu. KSZ1 339.2

Ketika mereka datang lebih dekat, suatu iring-iringan penguburan tampak keluar dari pintu gerbang. Dengan langkah yang perlahan-lahan dan susah rombongan itu mendekati tempat kuburan. Pada usungan yang terbuka di depan terdapatlah jenazah orang mati itu, dikelilingi oleh orang-orang yang meratap, memenuhi udara dengan ratapan mereka. Semua penduduk kota itu berkumpul untuk menunjukkan penghormatan mereka kepada yang mati dan simpati mereka bagi yang berdukacita. KSZ1 339.3

Pemandangan itu membangkitkan rasa simpati. Yang meninggal itu anak tunggal dan ibunya sudah menjadi janda. Wanita yang berduka dan kesepian itu sedang mengikuti dia ke kubur, seorang penolong dan penghibur satu-satunya di dunia ini. “Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan.” Ketika perempuan itu berjalan dengan gontai dan menangis, tidak mengetahui bahwa Yesus, ada di sana, Yesus mendekati perempuan itu, dan dengan lembut berkata, “Janganlah menangis.” Yesus sudah hampir mengubah dukanya kepada kesukaan, namun Ia tidak menahan pernyataan simpati-Nya yang menghiburkan ini. KSZ1 340.1

“Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya;” bagi-Nya walaupun menyentuh orang mati tidak mencemarkan. Rombongan orang yang berkabung berdiri, dan ratapan berhenti. Kedua rombongan itu me-ngelilingi usungan itu dengan mengharapkan sesuatu yang tidak pernah mereka harapkan. Ada Seorang yang hadir yakni Orang yang telah mem-buang penyakit dan mengusir Setan; apakah maut juga takluk pada kuasa-Nya? KSZ1 340.2

Lebih jelas, suara yang penuh kuasa itu diucapkan, Hai anak muda! Aku berkata kepadamu: Bangkitlah.” Suara itu menembusi telinga orang mati itu. Orang muda itu membuka matanya. Yesus memegang tangannya, dan mengangkat dia. Pandangannya tertuju kepada perempuan yang menangis di sampingnya, ibu dan anak berpeluk dalam kegembiraan. Orang banyak diam, seolah terpukau. “Memuliakan Allah; sambil berkata: Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita, dan Allah telah melawat umat-Nya.” Iringan jenazah itu kembali ke Nain bagaikan satu arak-arakan kemenangan. “Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.” KSZ1 340.3

Ia yang berdiri di samping ibu yang berduka di pintu gerbang Nain, memperhatikan setiap orang yang berduka dekat usungan itu. Hati-Nya menjamah kesusahan kita dengan simpati. Hati-Nya, yang penuh kasih dan kasihan, adalah hati kelemahlembutan yang tiada berubah. Firman-Nya, yang memanggil orang mati supaya hidup kembali, tidak kurang kesanggupan-Nya sekarang daripada waktu dikatakan kepada orang muda di Nain itu. Ia berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.” Matius 28:18. Kuasa itu tidak berkurang oleh berlalunya tahun, atau oleh pekerjaan yang tak henti-hentinya dan kegiatan kemurahan-Nya yang terus mengalir. Kepada mereka yang percaya kepada-Nya. Ia masih tetap seorang Juruselamat yang hidup. KSZ1 340.4

Yesus telah mengubah duka ibu itu menjadi kesukaan tatkala Ia me-ngembalikan anaknya kepada perempuan itu; namun demikian orang muda itu telah dipanggil untuk hidup di dunia ini, merasakan derita me-nanggung duka, mara bahaya, dan sekali lagi melalui kuasa maut. Tetapi Yesus menghibur duka kita atas kematian dengan berita pengharapan yang tiada taranya: “Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.” “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan.” Wahyu 1:18; Ibrani 2:14, 15. KSZ1 341.1

Setan tidak dapat menahan orang mati itu di dalam genggamannya jika Anak Allah memanggil mereka hidup kembali. Ia tidak dapat menahan di dalam kematian rohani satu jiwa yang di dalam iman menerima kuasa perkataan Kristus. Tuhan berkata kepada semua orang yang mati di dalam dosa, “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati.” Efesus 5:14. Perkataan itu kekal. Sebagaimana perkataan Allah yang memanggil orang mati yang pertama hidup, masih tetap juga memberikan hidup bagi kita; sebagaimana Kristus berkata, “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu: Bangkitlah!” memberi hidup kepada anak muda di Nain, demikian juga perkataan, “Bangkitlah dari antara orang mati” merupakan kehidupan bagi jiwa yang menerimanya. Tuhan “telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih.” Kolose 1:13. Inilah semua yang diberikan kepada kita di dalam firman-Nya. Jika kita me-nerima firman itu, kita mendapat kelepasan. KSZ1 341.2

Dan “jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu. Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit, sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Roma 8:11; 1 Tes. 4:16,17. Inilah perkataan penghiburan dengan mana kita diminta saling menghiburkan satu sama lain. KSZ1 342.1