Membina Anak yang Bertanggung Jawab

26/84

Bagian 7—MENGEMBANGKAN KUALITAS HIDUP YANG BAIK

PASAL 25—Kesederhanaan

Didik dalam Kesederhanaan yang Alamiah. Anak-anak kecil harus dididik dalam kesederhanaan sebagai seorang anak kecil. Mereka harus dilatih untuk merasa puas dengan tugas-tugas yang kecil dan bersifat menolong, dan kesukaan-kesu-kaan serta pengalaman-pengalaman yang biasa dalam usia mereka. Masa kanak-ka-nak menjadi jawab atas tangkai yang disebutkan dalam perumpamaan, dan tangkai itu mempunyai keindahannya yang tersendiri. Anak-anak tidak boleh dipaksa untuk menjadi matang terlalu cepat, melainkan sedapat-dapatnya harus dibiarkan dalam kesegaran dan keindahan masa kecil mereka. Makin pendiam dan makin sederhana kehidupan seorang anak—makin bebas dari keributan dan makin serasi dengan alam—maka keadaannya akan semakin baik bagi kesegaran jasmani dan mental serta bagi kekuatan rohaninya. 1 MABJ 145.1

Orangtua harus memberikan teladan hidup mereka untuk mendorong terbentuknya kebiasaan sederhana, dan menarik anak-anak mereka dari kehidupan yang dibuat-buat kepada suatu kehidupan yang alamiah. 2 MABJ 146.1

Anak-anak yang Tidak Terpengaruh adalah Anak-anak yang Paling Menarik. Anak-anak yang paling menarik adalah anak-anak yang sederhana dan tidak terpengaruh. Tidaklah bijaksana memberikan kepada anak-anak perhatian yang khusus.... Kesia-siaan tidak boleh dimanjakan dengan memuji-muji penampilan mereka, kata-kata mereka ataupun perbuatan mereka. Jangan berikan pakaian yang mewah dan bersifat mempertontonkan kepada anak-anak. Hal ini akan membangkitkan kesombongan di dalam diri mereka dan menimbulkan iri hati di dalam hati sahabat-sahabatnya. Ajarkan kepada anak-anak bahwa perhiasan yang sejati bukanlah yang di luar. “Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.” 3 MABJ 146.2

Rahasia Daya Tarik Sejati. Anak-anak perempuan harus diajar bahwa daya tarik kewanitaan yang sejati bukanlah hanya terdapat di dalam keindahan bentuk tubuh atau paras muka, bukan karena memiliki sesuatu keahlian; melainkan dalam roh yang pendiam dan lemah lembut, dalam kesabaran, kedermawanan, manis budi, dan suatu kerelaan untuk berbuat dan menderita bagi orang lain. Mereka harus diajar bekerja, belajar untuk suatu tujuan, hidup dengan suatu cita-cita, untuk berharap di dalam Tuhan dan takut akan Dia, dan untuk menghormati orangtua mereka. Kemudian apabila mereka menjadi lebih dewasa, mereka akan bertumbuh dengan pikiran yang lebih suci, bersandar kepada diri sendiri, dan dikasihi Mustahillah merendahkan martabat wanita seperti itu. Ia akan terlepas dari penggodaan dan ujian yang telah mengakibatkan kehancuran banyak orang. 4 MABJ 146.3

Benih Kesia-siaan. Di dalam banyak keluarga benih-benih kesia-siaan dan sifat mementingkan diri ditaburkan di dalam hati anak-anak hampir-hampir selama masa bayi mereka. Kata-kata dan perbuatan mereka yang pintar dikomentari dan dipuji-puji di hadapan mereka, dan diulangi dengan dibesar-besarkan kepada orang lain. Dan anak-anak kecil itu memperhatikan hal ini dan mereka dipenuhi dengan perasaan bahwa dirinya penting; mereka menjadi berani memotong pembicaraan dan menjadi congkak dan tidak hormat. Pujian yang berlebih-lebihan dan pemanjaan akan menambah kesia-siaan dan kekerasan hati mereka, sehingga tidak jarang anak-anak kecil itu memerintah seluruh keluarga, termasuk ibu dan bapa. MABJ 146.4

Kecenderungan yang dibentuk oleh pendidikan seperti ini tidak bisa dihilangkan apabila anak itu menjadi dewasa dalam pertimbangannya. Itu akan bertambah-tambah dengan bertumbuhnya anak itu, dan apa yang mungkin kelihatannya cerdik di dalam diri seorang bayi, akan menjadi sesuatu yang menjijikkan dan jahat di dalam diri seorang pria atau wanita. Mereka berusaha menguasai semua teman-temannya, dan jikalau ada orang yang menolak keinginan mereka, mereka akan merasa diri dihina dan hati mereka didukakan. Hal ini disebabkan oleh karena mereka telah dimanjakan sehingga merusak diri mereka sewaktu masih muda, gantinya telah diajar untuk menyangkal diri yang diperlukan untuk menanggung segala kesukaran dalam hidup. 5 MABJ 147.1

Jangan Bangkitkan Perasaan Ingin Dipuji. Anak-anak memerlukan penghargaan, simpati dan dorongan; tetapi kita harus berhati-hati jangan sampai membangkitkan di dalam diri mereka perasaan ingin untuk dipuji.... Guru atau orangtua yang selalu mengingat akan tujuan yang sebenarnya dari tabiat dan kemungkinan-kemungkinan untuk memperoleh sukses tidak akan memanjakan atau mendorong sifat merasa diri cukup. Ia tidak akan membangkitkan di dalam diri anak muda itu keinginan atau usaha untuk mempertontonkan kesanggupan atau keahlian mereka. Ia yang memandang lebih tinggi daripada dirinya sendiri akan menjadi orang yang rendah hati, namun demikian ia akan memiliki suatu martabat yang tidak akan dipermalukan atau dihinakan oleh pertunjukan secara luar ataupun kebesaran manusia. 6 MABJ 147.2

Berikan Dorongan Supaya Menjadi Sederhana dalam Hal Makanan dan Pakaian. Orangtua mempunyai satu tugas yang suci untuk dilaksanakan dalam mendidik anak-anak mereka untuk menolong memikul beban rumah tangga, supaya puas dengan makanan yang biasa dan sederhana, dan pakaian yang rapi dan tidak mahal. 7 MABJ 147.3

Oh, kiranya para bapa dan ibu mau menyadari tanggung jawab mereka di hadapan Allah! Betapa suatu perubahan akan terjadi di dalam masyarakat! Anak-anak tidak akan dimanjakan dengan cara dipuji-puji, ataupun dijadikan sia-sia dengan cara dimanjakan dalam berpakaian. 8 MABJ 147.4

Kesederhanaan dan Berharap. Kita harus mengajar pada anak-anak kita pelajaran-pelajaran tentang kesederhanaan dan ber-harap. Kita harus mengajar mereka untuk mengasihi dan takut dan menurut kepada Khalik mereka. Di dalam segala rencana dan tujuan hi-dup kemuliaan-Nya harus diutamakan; kasih-Nya harus menjadi sum-ber segala perbuatan. 9 MABJ 148.1

Yesus adalah Teladan Kita. Yesus hidup di dunia dengan marta-bat seorang raja; namun demikian Ia adalah seorang yang lemah lembut dan rendah hati. Ia adalah sebuah terang dan berkat di dalam setiap rumah tangga oleh karena Ia membawa kesukaan, harapan semangat bersama dengan diri-Nya. Oh, kiranya kita bisa dipuaskan dengan lebih sedikit keinginan-keinginan hati, lebih sedikit usaha untuk mempero leh benda-benda yang sukar didapat dengan mana kita mau mem-perindah rumah kita, sementara perkara yang bagi Allah lebih bernilai daripada permata, yaitu roh lemah lembut dan pendiam, tidak diperkembangkan. Sifat-sifat kesederhanaan, kelemahlembutan dan kasih yang benar akan menjadikan sebuah rumah tangga yang paling sederhana pun sebagai sebuah Firdaus. Lebih baik menanggung segala kekurangan-kekurangan dengan disertai hati yang senang ketimbang kehilangan damai dan kepuasan. 10 MABJ 148.2