PARA NABI DAN BAPA, vol. 1

6/43

Penggodaan Dan Kejatuhan

Pasal ini dialaskan atas Kejadian 3.

Olehkarena tidak ada lagi kebebasan untuk membangkitkan pemberontakan di sorga, permusuhan setan terhadap Tuhan mendapat satu arena baru dalam rencananya untuk menghancurkan umat manusia. Di dalam kebahagiaan dan damai yang dinikmati oleh pasangan yang suci di Eden, ia melihat satu gambaran kemuliaan yang telah hilang daripadanya untuk selama-lamanya. Didorong oleh rasa iri hati, ia bertekad untuk menghasut mereka agar memberontak, dan mendatangkan kepada mereka kesalahan dan hukuman dosa. Ia akan mengubah kasih mereka menjadi sifat tidak percaya, dan nyanyian pujian mereka menjadi kata-kata celaan terhadap Khalik mereka. Dengan demikian ia bukan saja akan menjerumuskan mahluk-mahluk yang tidak berdosa ini ke dalam penderitaan yang sama yang sedang dialaminya tetapi juga akan mendatangkan celaan kepada Allah, dan menimbulkan kedukaan di dalam sorga. PB1 42.1

Leluhur kita yang pertama tidaklah dibiarkan begitu saja tanpa mendapat amaran lebih dulu tentang bahaya yang mengancam mereka. Pesuruhpesuruh sorga membeberkan kepada mereka sejarah kejatuhan setan dan rencananya untuk membinasakan mereka, menjelaskan dengan lebih sempurna sifat pemerintahan ilahi, yang sedang dicoba untuk digulingkan oleh penghulu kejahatan itu. Adalah oleh pelanggaran terhadap perintah Allah yang adil bahwa setan dan segala pengikutnya telah jatuh. Kalau demikian, betapa pentingnya bahwa Adam dan Hawa harus menghormati hukum itu, yang olehnya saja keselarasan dan keadilan mungkin untuk dipertahankan. PB1 42.2

Hukum Allah adalah sama sucinya seperti Allah sendiri. Itu adalah satu pernyataan kehendakNya, satu pernyataan tertulis dari tabiatNya, pernyataan dari kasih dan hikmat ilahi. Keselarasan alam semesta ini bergantung atas penurutan yang sempurna dari segala mahluk, dari segala sesuatu baik benda hidup atau benda mati, terhadap hukum Khalik itu. Tuhan telah menetapkan undang-undang bagi pemerintahan, bukan saja bagi mahlukmahluk hidup tetapi juga bagi seluruh kegiatan dalam alam ini. Segala sesuatu berada di bawah hukum yang tak dapat diubah dan yang tidak dapat diabaikan. Tetapi sementara segala sesuatu di dalam alam diperintah oleh hukum alam, hanya manusia saja dari segala penduduk bumi ini, yang bertanggung jawab terhadap hukum moral. Kepada manusia, mahluk ciptaan yang paling mulia, Allah telah memberikan kuasa untuk mengerti akan tuntutan-tuntutanNya, mengerti akan keadilan serta kebajikan hukumNya dan tuntutan yang suci daripada hukum itu terhadap dirinya; dan dari manusia dituntut penurutan yang tetap. PB1 42.3

Sebagaimana halnya malaikat-malaikat, penghuni Edenpun ditempatkan dalam masa percobaan; kebahagiaan mereka hanya dapat dipertahankan dengan syarat kesetiaan terhadap undang-undang Khalik itu. Mereka dapat menurut dan hidup atau melanggar dan binasa. Tuhan telah menjadikan mereka sebagai penerima berkat-berkatNya yang limpah; tetapi kalau mereka melanggar kehendakNya, Ia yang tidak membiarkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa itu, tidak juga dapat membiarkan mereka begitu saja; pelanggaran akan meniadakan pemberian-pemberianNya dan mendatangkan kepada mereka penderitaan dan kebinasaan. PB1 43.1

Malaikat-malaikat mengamarkan mereka supaya selalu waspada terhadap tipu daya setan, karena usahanya untuk menjerat mereka tidak pernah mengenal lelah. Selagi mereka taat kepada Allah sijahat itu tidak akan dapat membinasakan mereka; karena, bila perlu, setiap malaikat di sorga akan disuruh untuk menolong mereka. Jikalau mereka tetap menolak bujukannya yang pertama, mereka akan selamat sama seperti pesuruh-pesuruh sorga itu. Tetapi sekali saja mereka menyerah kepada godaan itu, keadaan mereka akan menjadi begitu merosot sehingga di dalam diri mereka sendiri mereka tidak mempunyai kuasa atau kesanggupan untuk menentang setan. PB1 43.2

Pohon pengetahuan baik dan jahat telah dijadikan sebagai satu ujian penurutan serta kasih mereka kepada Tuhan. Tuhan telah melihat bahwa tepatlah untuk menghadapkan kepada mereka hanya satu larangan saja terhadap penggunaan segala sesuatu yang ada di dalam taman itu; tetapi jikalau mereka melanggar kehendakNya di dalam hal yang tertentu ini; mereka akan mendatangkan ke atas diri mereka kesalahan daripada pelanggaran itu. Setan tidak dapat terus-menerus mencobai mereka; ia dapat menggoda mereka hanya melalui pohon yang dilarang itu. Kalau mereka berani mencoba untuk menyelidiki keadaan pohon itu mereka akan terbuka kepada muslihatnya. Mereka dinasehati supaya memperhatikan dengan seksama akan amaran yang diberikan Tuhan kepada mereka dan untuk merasa puas dengan petunjuk yang telah diberikanNya dengan sepatutnya. PB1 43.3

Agar supaya dapat melaksanakan pekerjaannya tanpa kelihatan, setan telah memilih menggunakan ular sebagai alatnya—satu alat yang tersembunyi yang telah disesuaikan dengan usaha penipuannya. Pada waktu itu ular adalah salah seekor mahluk yang paling cerdik dan paling indah di bumi ini. Dia mempunyai sayap dan bilamana terbang di udara ia memberikan satu penampilan yang berkilauan serta memiliki warna keemasan yang indah dan menarik. Hinggap di atas dahan yang sarat oleh buah-buah yang dilarang itu sambil memuaskan dirinya dengan buah yang lezat itu, ia merupakan satu hal yang menarik perhatian dan menyukakan mata yang memandangnya. Demikianlah di dalam taman yang penuh damai itu menyelinap sipembinasa itu sambil mengamat-amati mangsanya. PB1 44.1

Malaikat-malaikat telah mengamarkan Hawa agar jangan memisahkan diri dari suaminya sementara sedang asyik dengan pekerjaan mereka sehari-hari dalam taman itu; bersama-sama dengan suaminya ia berada dalam bahaya pencobaan yang lebih kecil daripada kalau ia berjalan sendirian. Tetapi sedang asyik dalam tugas yang menyenangkan itu, dengan tidak sadar ia telah meninggalkan suaminya. Pada waktu ia menyadari bahwa ia sendirian ia merasakan adanya bahaya, tetapi sambil mengusir rasa takutnya itu, ia merasa bahwa ia mempunyai akal budi dan kekuatan yang cukup untuk mengetahui serta menolak yang jahat. Dengan tidak mengindahkan amaran-amaran malaikat-malaikat segera ia mendapati dirinya sedang melihat-lihat pohon yang dilarang itu dengan perasaan ingin tahu bercampur dengan rasa kekagumannya. Buahnya memang indah sekali, dan ia bertanya-tanya dalam dirinya mengapa Tuhan telah menahan buah ini dari mereka. Sekarang adalah kesempatan untuk sipenggoda itu. Seakanakan mengetahui apa yang sedang dipikir-pikirkan oleh Hawa, ia berkata kepada perempuan itu: “Barangkali firman Tuhan begini: jangan kamu makan buah-buah segala pohon yang ada di dalam taman ini?” Hawa merasa heran dan terkejut karena seolah-olah ia dapat mendengar gema dari pikirannya. Tetapi ular itu meneruskan, dengan suatu suara yang merdu, memberikan pujian akan kecantikannya; dan kata-katanya bukanlah sesuatu yang tidak menyenangkan. Gantinya lari dari tempat itu ia tetap berdiri di sana sambil mengagumi seekor ular yang dapat berkata-kata. Kalau saja ia telah disapa oleh suatu mahluk seperti malaikat-malaikat, rasa takutnya akan bangkit; tetapi ia tidak pernah memikirkan bahwa ular yang indah itu dapat dijadikan sebagai satu alat musuh yang sudah jatuh ke dalam dosa. PB1 44.2

Menjawab pertanyaan sipenggoda itu ia berkata: “Boleh kami makan buah pohon yang ada dalam taman ini, akan tetapi akan buah pohon yang di tengah taman itu adalah firman Allah: jangan engkau makan atau jamah akan dia supaya jangan engkau mati. Lalu kata ular kepada perempuan itu: Niscaya tiada kamu akan mati, melainkan telah diketahui Allah akan hal jika engkau makan buah itu, tak dapat tiada pada ketika itu juga celiklah matamu dan engkau jadi seperti Allah, sebab mengetahui baik dan jahat.” PB1 44.3

Sambil memakan buah pohon itu, ia mengatakan, bahwa mereka akan tiba kepada suatu keadaan hidup yang lebih mulia dan memasuki satu bidang pengetahuan yang lebih luas lagi. Ia sendiri telah memakan buah yang dilarang itu dan sebagai akibatnya, ia telah memperoleh kesanggupan untuk berkata-kata. Dan ia telah menghasutnya sambil mengatakan bahwa Tuhan didorong oleh rasa cemburu telah menahan buah ini dari mereka, agar jangan mereka itu menjadi setara dengan diriNya. Adalah disebabkan olehkarena khasiatnya yang ajaib, yang dapat memberikan hikmat dan kuasa, sehingga Ia telah melarang mereka untuk mengecap bahkan menjamahnya. Sipenggoda itu menjelaskan bahwa amaran ilahi itu tidak akan menjadi satu kenyataan; itu hanya sekedar menakut-nakuti mereka. Bagaimana mungkin mereka itu akan mati? Bukankah mereka sudah memakan buah pohon alhayat? Tuhan sedang berusaha mencegah mereka jangan tiba kepada satu keadaan yang lebih mulia dan memperoleh kebahagiaan yang lebih besar. PB1 45.1

Begitulah cara setan bekerja semenjak zaman Adam sampai sekarang ini, dan melalui cara ini ia telah beroleh hasil yang gemilang. Ia menggoda manusia untuk meragukan kasih Allah dan hikmatNya. Ia senantiasa berusaha membangkitkan roh ingin tahu yang tidak hormat, satu keinginan yang didorong oleh rasa gelisah dan bertanya-tanya untuk mendalami rahasia hikmat serta kuasa ilahi. Di dalam usaha mereka untuk menyelidiki apa yang disembunyikan Tuhan dari mereka, banyak orang telah mengabaikan kebenaran-kebenaran yang telah dinyatakanNya dan yang perlu bagi keselamatan. Setan menggoda manusia untuk berbuat pelanggaran oleh memimpin mereka untuk mempercayai bahwa mereka sedang memasuki satu bidang pengetahuan yang ajaib. Tetapi semuanya ini adalah suatu penipuan belaka. Dirangsang oleh keinginan untuk lebih maju, mereka, dengan menginjak-injak tuntutan Allah, sedang menjejakkan kaki mereka pada jalan yang menuntun mereka kepada kemerosotan dan kebinasaan. PB1 45.2

Setan menyatakan kepada pasangan yang suci itu, bahwa mereka akan menjadi orang-orang yang beruntung dengan melanggar hukum Allah. Bukankah dewasa ini juga kita mendengar ucapan yang sama ini? Banyak orang yang membicarakan tentang kepicikan daripada mereka yang mentaati hukum Allah, sementara mereka sendiri mengaku mempunyai pendapat yang lebih luas dan menikmati kebebasan yang lebih besar. Apakah makna hal ini selain daripada satu gema daripada satu suara di Eden, “Pada hari engkau makan buah itu”—melanggar tuntutan ilahi—”engkau akan menjadi seperti Allah?” Setan mengaku telah menerima perkara-perkara yang baik dengan jalan memakan buah yang dilarang itu, tetapi ia tidak memperlihatkan bahwa oleh pelanggaran itu ia sudah terbuang dari sorga. Sekalipun ia telah mendapati bahwa dosa itu mengakibatkan satu kerugian yang tidak terhitung, ia telah menyembunyikan penderitaannya agar dapat menarik orang lain kepada keadaan yang sama. Demikian juga sekarang ini orang-orang yang melanggar berusaha untuk menyembunyikan tabiat mereka yang sebenarnya; boleh jadi ia mengaku suci; tetapi pengakuannya yang tinggi itu hanyalah menjadikan dirinya sebagai seorang penipu yang berbahaya. Ia berada di pihak setan, menginjak-injak hukum Allah dan memimpin orang lain untuk berbuat hal yang sama, yang akan mengakibatkan kebinasaan mereka. PB1 45.3

Hawa dengan sungguh-sungguh mempercayai kata-kata setan, tetapi kepercayaannya itu tidaklah menyelamatkan dia dari hukuman dosa. Ia tidak mempercayai sabda Allah dan inilah yang telah menyebabkan kejatuhannya. Dalam pehukuman, manusia tidak dihukum olehkarena mereka dengan sadar mempercayai satu dusta melainkan olehkarena mereka tidak mempercayai kebenaran, olehkarena mereka melalaikan kesempatan untuk mempelajari apakah kebenaran itu. Sekalipun adanya muslihat setan untuk berbuat yang sebaliknya, adalah selalu berbahaya untuk tidak menurut Tuhan. Kita harus menetapkan hati untuk mengetahui apakah kebenaran itu. Segala pelajaran yang Tuhan telah sengaja untuk mencatatnya di dalam firmanNya adalah untuk menjadi amaran serta petunjuk bagi kita. Semuanya itu diberikan untuk menyelamatkan kita dari penipuan. Melalaikan semua itu berarti kehancuran kepada kita. Apapun yang bertentangan dengan firman Allah, kita dapat memastikan bahwa itu berasal dari setan. PB1 46.1

Ular itu memetik buah pohon yang dilarang itu dan meletakkannya di tangan Hawa yang merasa agak ragu-ragu. Kemudian ia mengingatkan kepadanya akan kata-katanya sendiri bahwa Tuhan telah melarang mereka untuk menjamahnya agar jangan mereka mati. Ia tidak akan menderita sesuatu yang lebih besar dengan memakan buah itu, katanya, daripada dengan menjamahnya. Melihat bahwa tidak ada akibat buruk apa-apa yang terjadi terhadap apa yang diperbuatnya, Hawa menjadi lebih berani. Tatkala ia melihat “sedap kepada pemandangan mata, yaitu sebatang pohon asyik akan mendatangkan budi, maka diambilnya daripada buahnya, lalu dimakannya, serta diberikannya pula kepada lakinya, maka iapun makanlah.” Memang rasanya sedap dan bilamana ia memakannya, ia seolah-olah merasakan adanya satu kuasa yang menggairahkan hidupnya dan membayangkan bahwa ia sedang memasuki suatu kehidupan yang lebih mulia. Tanpa perasaan takut sedikitpun ia memetik dan memakannya. Dan sekarang, setelah ia melakukan pelanggaran, ia menjadi alat setan dalam membinasakan suaminya. Dengan satu perasaan gembira yang aneh dan ganjil, dengan tangan yang dipenuhi oleh buah-buahan yang dilarang itu, ia mencari suaminya dan menceritakan segala sesuatu yang terjadi. PB1 46.2

Suatu gambaran kesedihan terlukis pada wajah Adam. Ia kelihatan keheran-heranan dan takut. Terhadap perkataan Hawa ia menjawab bahwa ini tentunya adalah musuh terhadap siapa mereka telah diamarkan; dan oleh hukuman ilahi ia harus mati. Sebagai jawabnya Hawa mendesak untuk memakan buah itu, sambil mengulangi kata-kata ular itu bahwa mereka pasti tidak akan mati. Ia mengatakan bahwa hal ini tentunya benar karena ia tidak merasakan adanya bukti-bukti kemarahan Allah, malahan sebaliknya ia menyadari adanya suatu pengaruh yang nikmat dan menyegarkan yang merangsang segenap jiwanya dengan satu kehidupan yang baru sedemikian rupa sehingga, menurut pikirannya, inilah yang mengilhami pesuruh-pesuruh sorga. PB1 47.1

Adam mengerti bahwa pasangannya telah melanggar perintah Allah, mengabaikan satu-satunya larangan yang dihadapkan kepada mereka sebagai satu alat penguji akan kesetiaan dan kasih mereka. Di dalam pikirannya terjadi suatu pergumulan yang hebat. Ia menyesal bahwa ia telah membiarkan Hawa pergi dari sisinya. Tetapi kini hal itu telah terjadi; ia harus berpisah dari dia dengan siapa pergaulannya telah membahagiakannya. Bagaimana ia dapat berpikir demikian? Adam telah menikmati persahabatan dengan Allah dan malaikat-malaikat yang suci. Ia telah memandang akan kemuliaan Khalik itu. Ia mengetahui adanya nasib yang mulia yang akan menjadi bahagian umat manusia kalau saja mereka tetap setia kepada Tuhan. PB1 47.2

Tetapi segala berkat-berkat ini hilang lenyap dari pandangannya karena rasa takut akan kehilangan pemberian yang satu itu yang dalam pemandangan matanya lebih berharga daripada segala sesuatu yang lainnya. Kasih, rasa syukur, kesetiaan kepada Khalik itu, semuanya ditelan oleh kasih kepada Hawa. Ia adalah sebahagian daripada dirinya dan ia tidak dapat membayangkan untuk dapat berpisah daripadanya. Adam tidak menyadari bahwa kuasa yang tidak terbatas itu, yang dari lebu tanah telah menciptakan dirinya menjadi satu mahluk yang hidup dan indah serta di dalam kasih telah memberikan kepadanya seorang sahabat, akan dapat memberikan penggantinya. Ia mengambil keputusan untuk ambil bahagian dalam nasib perempuan itu; jikalau Hawa harus mati ia akan mati bersama-sama. Apakah tidak mungkin, pikirnya, bahwa kata-kata ular yang bijaksana itu berisi kebenaran? Hawa berdiri di hadapannya, seindah dan kelihatannya sesuci seperti sebelum ia berbuat pelanggaran. Hawa menyatakan kasih yang lebih besar kepadanya dibandingkan dengan sebelumnya. Tidak terlihat adanya tanda-tanda kematian pada diri Hawa dan Adam bertekad untuk menanggung segala akibatnya. Dengan cepat ia mengambil buah itu dan memakannya. PB1 47.3

Setelah pelanggaran itu, Adam mula-mula membayangkan bahwa ia sedang memasuki satu keadaan hidup yang lebih tinggi. Tetapi dengan segera pemikiran tentang dosanya itu memenuhi dirinya dengan rasa kegentaran. Udara yang dulunya bersuhu sejuk sama di mana-mana, kasih dan damai yang selama ini mereka nikmati sekarang telah lenyap dan sebagai gantinya mereka dipenuhi oleh suatu perasaan berdosa, satu kegentaran dalam menghadapi hari depan, satu ketelanjangan jiwa. Jubah cahaya yang menyelubungi mereka sekarang telah hilang dan sebagai penggantinya mereka berusaha membuat satu alat penutup bagi diri mereka; oleh karena dalam keadaan telanjang mereka tidak dapat memandang mata Allah dan malaikat-malaikat suci. PB1 48.1

Sekarang baru mereka mulai melihat sifat yang sebenarnya daripada dosa mereka. Adam mempersalahkan pasangannya atas kebodohannya sehingga telah pergi dari sampingnya dan membiarkan dirinya ditipu oleh ular itu; tetapi kedua-duanya mencoba menghibur diri dengan mengatakan bahwa Ia yang telah memberikan kepada mereka begitu banyak bukti tentang kasihNya akan mengampuni pelanggaran yang satu ini, atau juga mereka tentunya tidak akan dijatuhi satu hukuman yang terlalu berat sebagaimana yang mereka takuti. PB1 48.2

Setan merasa gembira atas suksesnya itu. Ia telah berhasil menggoda Hawa untuk tidak percaya akan kasih Allah, meragukan hikmatNya serta melanggar hukumNya dan melalui Hawa ia telah berhasil menjatuhkan Adam. PB1 48.3

Tetapi saatnya hampir tiba bilamana Pemberi hukum yang agung itu akan menyatakan kepada Adam dan Hawa akibat-akibat pelanggaran mereka. Kehadiran ilahi dinyatakan di dalam taman itu. Di dalam keadaan mereka yang tidak bersalah dan suci mereka dengan kesukaan menyambut kedatangan Khalik mereka; tetapi sekarang mereka lari ketakutan dan berusaha untuk bersembunyi di antara pepohonan yang lebat di taman itu. Tetapi “Tuhan Allah berseru kepada Adam, katanya: Di manakah engkau? Maka sahut Adam: Bahwa kudengar suaraMu dalam taman, maka takutlah aku, karena aku telanjang, sebab itu aku bersembunyi. Maka firman Allah: siapa gerangan memberi tahu engkau, bahwa engkau telanjang? Sudahkah engkau makan daripada pohon, yang telah kupesan jangan engkau makan buahnya?” PB1 48.4

Adam tidak dapat menyangkal atau mencari dalih akan dosanya itu; tetapi gantinya menyatakan pertobatan, ia berusaha untuk melemparkan kesalahan atas diri isterinya, dan dengan demikian berarti kepada Tuhan sendiri: “Adapun perempuan yang telah Tuhan karuniakan kepadaku itu, ia itu memberikan daku buah pohon itu, lalu kumakan.” Ia yang, oleh karena cintanya kepada Hawa, dengan sengaja telah memilih meninggalkan kehendak Allah, rumahnya di Firdaus dan satu kehidupan yang kekal yang penuh kesukaan, sekarang, setelah berdosa, berusaha menjadikan kawannya itu, bahkan Khalik itu sendiri, bertanggung jawab atas pelanggaran tersebut. Sungguh hebat kuasa dosa. PB1 49.1

Pada waktu perempuan itu ditanya, “Apakah ini yang telah kau perbuat?” Ia menjawab, “Si ular itu menipu aku, lalu aku makan.” “Mengapakah Engkau menciptakan ular itu? Mengapakah Engkau membiarkan ular itu masuk ke dalam taman Eden?”—inilah sebenarnya yang dimaksudkan dalam pertanyaan Hawa itu sebagai dalih terhadap dosanya. Dengan demikian, seperti Adam, ia menuduh Allah bertanggung jawab atas kejatuhan mereka ke dalam dosa. Roh membenarkan diri berasal dari bapa segala dusta; itu dimanjakan oleh leluhur kita yang pertama segera setelah mereka menyerah kepada pengaruh setan dan telah dinyatakan oleh semua keturunan Adam. Gantinya dengan rendah hati mengaku dosa-dosa mereka, mereka mencoba membela diri dengan melemparkan kesalahan ke atas diri orang lain, terhadap keadaan sekeliling, atau terhadap Allah—menjadikan berkat berkatNya sekalipun sebagai satu sebab untuk bersungut-sungut kepadaNya. PB1 49.2

Kemudian Tuhan menjatuhkan hukuman ke atas ular itu: “Sebab telah engkau berbuat yang demikian, maka terkutuklah engkau daripada segala binatang yang jinak dan segala binatang hutan, maka engkau akan menyulur dengan perutmu, dan engkaupun akan makan lebu tanah sepanjang umur hidupmu.” Kejadian 3:14. Oleh karena ia telah digunakan sebagai alat setan, ular itu harus mendapat bahagian dalam hukuman ilahi. Dari mahluk yang dulunya paling indah dan paling dikagumi dari antara segala mahluk yang ada di bumi ini, sekarang ia harus menjadi binatang yang paling menjijikkan dan paling hina dari semuanya, ditakuti dan dibenci baik oleh manusia ataupun binatang buas lainnya. Kata-kata selanjutnya yang ditujukan kepada ular itu berlaku kepada setan sendiri, menunjukkan kepada masa yang akan datang kepada kekalahan dan kehancurannya yang terakhir: “Maka Aku akan mengadakan perseteruan antaramu dengan perempuan ini, dan antara benihmu dan benihnya; maka ia akan meremukkan kepalamu dan engkaupun akan mematuk tumitnya.” (Kejadian 3:15). PB1 49.3

Kepada Hawa diberitahukan tentang kesedihan serta penderitaan yang harus menjadi bahagiannya semenjak saat itu. Dan Tuhan berkata, “Engkau akan takluk kepada lakimu dan iapun akan memerintahkan engkau.” Pada waktu penciptaan Tuhan telah menjadikan Hawa setara dengan Adam. Jikalau mereka tetap menurut kepada Allah selaras dengan hukum kasihNya yang besar itu, mereka akan senantiasa selaras satu dengan yang lain; tetapi dosa telah mendatangkan perselisihan dan sekarang kerukunan mereka dapat dipertahankan dan keselarasan mereka dapat dipelihara hanya bilamana salah satu dari antara mereka mengalah. Hawa adalah yang lebih dahulu berbuat pelanggaran; dan ia telah jatuh ke dalam pencobaan oleh memisahkan diri dari pasangannya, satu hal yang bertentangan dengan petunjuk ilahi. Oleh bujukannya Adam telah berbuat dosa dan sekarang ia berada di bawah perintah suaminya. Jikalau prinsipprinsip yang terkandung di dalam hukum Allah ditaati oleh umat manusia yang telah berdosa itu, hukuman ini, sekalipun timbul sebagai akibat dosa, akan menjadi satu berkat bagi mereka; tetapi penyalah-gunaan kaum pria terhadap kekuasaan yang telah diberikan kepada mereka itu sering mengakibatkan nasib kaum wanita menjadi sangat getir dan menjadikan hidup mereka sebagai satu beban. PB1 50.1

Hawa telah menikmati satu kebahagiaan yang sempurna di samping suaminya di rumahnya yang di Eden itu; tetapi, seperti Hawa-Hawa modern yang selalu gelisah, ia teperdaya oleh pengharapan bahwa ia akan memasuki satu keadaan yang lebih mulia dari apa yang telah ditetapkan Allah kepadanya. Dalam usahanya untuk naik lebih tinggi daripada kedudukannya yang semula, ia telah jatuh jauh lebih rendah dari keadaan itu. Akibat yang sama akan menimpa semua orang yang tidak mau menerima dengan senang hati akan tugas mereka sehari-hari sesuai dengan rencana Allah. Dalam usaha mereka untuk memperoleh kedudukan yang tidak pernah diberikan Tuhan kepada mereka, banyak orang telah meninggalkan tempat di mana sebenarnya mereka bisa menjadi satu berkat. Di dalam keinginan mereka untuk mencapai satu keadaan yang lebih tinggi, banyak orang telah mengorbankan martabat kewanitaannya dan keagungan tabiatnya dan telah mengabaikan pekerjaan yang telah ditetapkan sorga bagi mereka. PB1 50.2

Kepada Adam, Allah berkata, “Bahwa sebab telah engkau mendengar akan kata binimu serta sudah makan buah pohon, yang telah kupesan kepadamu jangan engkau makan dia, maka terkutuklah bumi itu sebab engkau, maka dengan kesusahan engkau akan makan hasilnya seumur hidupmu. Maka bumi itu akan menumbuhkan bagimu duri dan onak, dan sayur-sayuran di ladang akan menjadi makananmu. Maka dengan berpeluh mukamu engkau akan .nakan rezekimu sehingga engkau kembali pula kepada tanah, karena daripadanya engkau telah diambil; bahwa abulah adanya, maka kepada abupun engkau akan kembali juga.” PB1 50.3

Bukanlah kehendak Allah bahwa pasangan yang tidak berdosa itu harus mengetahui sesuatu tentang kejahatan. Dengan kelimpahan Ia telah memberikan kepada mereka perkara-perkara yang baik dan telah menahankan yang jahat. Tetapi, bertentangan dengan perintahnya, mereka telah memakan buah pohon yang dilarang itu, dan sekarang mereka akan terus memakannya—mereka memiliki pengetahuan akan yang jahat seumur hidup mereka. Mulai sejak itu umat manusia akan menderita oleh penggodaanpenggodaan setan. Gantinya pekerjaan yang memberikan kebahagiaan yang telah ditetapkan bagi mereka dulu, maka sekarang penderitaan kesukaran harus menjadi nasib mereka. Mereka akan menjadi korban keputus-asaan, kedukaan, sakit dan akhirnya kematian. PB1 51.1

Di bawah kutuk dosa segenap alam harus menyaksikan kepada manusia tentang sifat-sifat dan akibat-akibat daripada pemberontakan terhadap Allah. Pada waktu Allah menjadikan manusia Ia menjadikan dia sebagai pemerintah atas seluruh bumi ini dan atas semua mahluk hidup. Selama Adam tinggal setia kepada sorga, segenap alam berada di bawah kekuasaannya. Tetapi bilamana ia memberontak terhadap hukum ilahi, mahlukmahluk yang lebih rendah itupun memberontak terhadap pemerintahannya. Dengan demikian Tuhan, dalam rahmatNya yang besar, menunjukkan kepada manusia akan kesucian hukumNya, dan menuntun mereka, melalui pengalaman mereka, untuk melihat bahayanya menyisihkan hukum itu sekalipun di dalam perkara yang terkecil. PB1 51.2

Dan kehidupan yang disertai dengan kesukaran dan pergumulan itu yang harus menjadi nasib manusia sejak saat itu telah ditetapkan dalam kasih. Itu adalah satu disiplin yang diperlukan sebagai akibat daripada dosanya, untuk menolong mengendalikan pemanjaan nafsu dan selera makan, untuk mengembangkan kebiasaan mengendalikan diri. Itu adalah sebagian daripada rencana Allah yang besar untuk memulihkan manusia dari kehancuran serta kemerosotan yang diakibatkan oleh dosa. PB1 51.3

Amaran yang diberikan kepada leluhur kita yang pertama—”Pada hari engkau makan daripadanya engkau akan mati” (Kejadian 2:17)—tidaklah berarti bahwa mereka harus mati pada hari yang sama di mana mereka telah memakan buah yang dilarang itu. Melainkan pada hari itu hukuman yang tidak dapat dihindarkan itu telah dimaklumkan. Kebakaan telah dijanjikan kepada mereka dengan syarat penurutan; oleh pelanggaran mereka kehilangan hidup yang kekal. Pada hari itu mereka ditakdirkan harus mati. PB1 51.4

Agar supaya dapat memiliki hidup yang tidak berkesudahan, manusia harus senantiasa memakan buah pohon alhayat. Tanpa itu, daya hidupnya akan berangsur-angsur berkurang sampai akhirnya seluruh hidupnya hilang lenyap. Setan berencana agar Adam dan Hawa melalui pelanggaran mendatangkan kepada diri mereka murka Allah; dan kemudian jikalau mereka tidak memperoleh keampunan ia berharap bahwa mereka akan memakan buah pohon alhayat, sehingga dengan demikian dosa dan penderitaan akan jadi kekal. Tetapi setelah kejatuhan manusia, malaikat-malaikat suci dengan segera ditugaskan untuk menjaga pohon alhayat. Di sekeliling malaikatmalaikat ini terpancar berkas-berkas cahaya yang nampaknya seperti pedang yang berkilauan. Tidak seorangpun dari keluarga Adam diizinkan untuk melalui penjagaan itu dan memakan buah yang dapat -memberikan hidup; oleh sebab itu tidak ada seorang berdosa yang baka. PB1 51.5

Kutuk yang timbul sebagai pelanggaran leluhur kita itu oleh banyak orang dianggap sebagai satu akibat yang terlalu dahsyat bagi satu dosa yang sekecil itu. Dan mereka meragukan hikmat serta keadilan Tuhan dalam perlakuanNya terhadap manusia. Tetapi jikalau mereka mau menyelidiki lebih dalam terhadap masalah ini, mereka akan dapat mengerti kesalahan mereka. Tuhan telah menjadikan manusia menurut petaNya, bebas dari dosa. Dunia ini dimaksudkan untuk dihuni oleh mahluk-mahluk yang lebih rendah sedikit dari malaikat-malaikat; tetapi penurutan mereka harus diuji; karena Allah tidak akan mengizinkan dunia ini dipenuhi oleh mereka yang tidak mau menghargai hukumNya. Namun demikian, di dalam rahmatNya yang besar itu, Ia telah menentukan bagi Adam satu ujian yang tidak berat. Dan kecilnya hal larangan itu telah menjadikan dosa itu sangatlah besar. Jikalau Adam tidak dapat mengatasi ujian yang terkecil itu, ia tidak akan dapat mengatasi ujian yang lebih besar seandainya kepadanya dipercayakan tanggung jawab yang lebih berat. PB1 52.1

Kalau saja ujian yang berat telah ditetapkan kepada Adam, maka mereka yang hatinya cenderung untuk berbuat kejahatan akan mencari dalih bagi mereka dengan berkata, “Ini adalah soal remeh dan Tuhan tidak akan pusing dengan perkara-perkara yang sepele.” Dan akan terjadi pelanggaran yang terus-menerus di dalam perkara-perkara yagn dianggap kecil dan akan terus berlangsung tanpa ada teguran di antara manusia. Tetapi Tuhan telah menjadikan hal itu jelas bahwa dosa bagaimanapun kecilnya adalah satu kehinaan kepadaNya. PB1 52.2

Kepada Hawa kelihatannya adalah satu perkara yang kecil untuk melanggar perintah Allah dengan memakan buah pohon yang dilarang itu, dan juga menggoda suaminya untuk berbuat pelanggaran; tetapi dosa mereka telah mengakibatkan kutuk ke atas dunia ini. Siapakah yang tahu, di saat-saat pencobaan, akan ada akibat-akibat yang mengerikan yang timbul oleh sebab satu langkah yang keliru? PB1 52.3

Banyak yang mengajarkan bahwa hukum Allah itu tidak lagi berlaku kepada manusia, menyatakan bahwa adalah mustahil baginya untuk mentaati peraturan-peraturan itu. Tetapi jikalau hal ini benar demikian, mengapa Adam harus menderita ganjaran daripada pelanggaran itu? Dosa leluhur kita yang pertama itu mendatangkan kesalahan serta kesedihan ke atas dunia ini, dan kalau bukan karena kebajikan dan rahmat Allah, maka itu akan menjerumuskan umat manusia ke dalam derita yang tidak berpengharapan lagi. Janganlah seorangpun menipu dirinya. “Upah dosa itu adalah maut.” Rum 6:23. Hukum Allah tidak dapat dilanggar sekarang ini tanpa ada hukuman sebagaimana halnya pada waktu hukuman itu dijatuhkan ke atas diri bapa umat manusia. PB1 53.1

Setelah mereka berbuat dosa, Adam dan Hawa tidak lagi diizinkan tinggal di Eden. Mereka memohon dengan sungguh-sungguh agar mereka diizinkan untuk tetap bermukim di rumah mereka yang penuh kebahagiaan di saat-saat mereka masih dalam keadaan yang suci. Mereka mengaku bahwa mereka telah kehilangan segala hak untuk mehdiami tempat yang penuh kesukaan itu, tetapi mereka berjanji bahwa di masa mendatang mereka akan mentaati dengan seksama akan perintah Allah. Tetapi kepada mereka diberitahukan bahwa keadaan diri mereka telah dirusak oleh dosa; mereka telah menyebabkan berkurangnya kekuatan mereka untuk melawan kejahatan dan telah membuka jalan bagi setan untuk lebih leluasa menggoda mereka. Di dalam keadaan mereka yang suci mereka telah menyerah kepada pencobaan; dan sekarang, di dalam satu keadaan yang sadar bahwa mereka itu bersalah, mereka memiliki kuasa yang lebih kecil untuk mempertahankan kesetiaan mereka. PB1 53.2

Di dalam kehinaan dan duka yang tidak terkatakan mereka telah meninggalkan rumah mereka yang indah dan pergi untuk hidup di dunia ini, di mana kutuk dosa berada. Udara yang dulunya begitu sejuk serta seragam suhunya, sekarang telah mengalami berbagai perubahan dan Tuhan dengan penuh rahmat telah menyediakan bagi mereka satu jubah yang terbuat dari kulit sebagai satu alat pelindung dari suhu yang sangat panas dan sangat dingin itu. PB1 53.3

Tatkala mereka melihat adanya tanda-tanda kematian yang pertama di dalam bunga-bunga yang layu dan daun-daun yang berguguran, Adam dan Hawa mengalami perasaan duka yang lebih dalam daripada perasaan duka manusia sekarang ini atas kematian kekasih mereka. Layunya bunga yang indah dan mungil itu sungguh-sungguh menyebabkan kesedihan; tetapi bilamana pepohonan yang indah itu melepaskan daun-daunnya yang berguguran, pemandangan ini dengan jelas menghadapkan kepada pikiran PB1 53.4

mereka akan fakta bahwa maut adalah merupakan bahagian daripada setiap benda hidup. Taman Eden tetap berada di atas bumi ini lama setelah manusia terbuang dari jalan-jalannya yang penuh kesukaan itu. Umat yang berdosa itu lama diizinkan untuk dapat memandang kepada rumah mereka sebelum berdosa, pintu gerbangnya terhalang hanya oleh malaikat-malaikat. Di pintu Firdaus yang dikawal oleh malaikat-malaikat kemuliaan ilahi dinyatakan. Ke tempat inilah Adam dan anak-anaknya telah datang untuk menyembah Tuhan. Di sini mereka memperbaharui janji-janji mereka untuk taat kepada hukum terhadap mana pelanggaran mereka telah menyebabkan terbuangnya mereka dari Eden. Apabila arus dosa melanda dunia ini, dan kejahatan manusia menetapkan kebinasaan mereka oleh air bah, tangan yang telah mendirikan Eden itu telah mengangkatnya dari dunia. Tetapi pada pemulihan yang terakhir, bilamana akan ada “satu langit yang baru dan satu bumi yang baru” (Wahyu 21:1), maka taman itu akan dikembalikan lagi dalam keadaan yang lebih mulia daripada awal mulanya. PB1 54.1

Kemudian mereka yang telah memelihara hukum-hukum Allah akan menghirup kesegaran yang kekal di bawah pohon alhayat itu, dan sepanjang zaman kekekalan penduduk dunia-dunia yang tidak berdosa akan memandang, di dalam taman kesukaan itu, satu contoh apa yang akan terjadi terhadap seluruh bumi ini, kalau manusia telah mengikuti rencana Khalik yang mulia itu. PB1 54.2