Perdjuangan Segala Zaman

18/54

Persembahan Korban

Apabila Adam, menurut petundjuk istimewa dari Tuhan, mengadakan satu korban karena dosanja, adalah jaitu bagi dia satu upatjara jang amat memilukan hati. Tangannja mesti diangkat supaja membinasakan satu djiwa, jang hanja Allah sadja dapat memberikannja, dan mengadakan satu persembahan karena dosa. Itulah pertama kali ia menjaksikan kematian. Sementara ia memandang kepada korban jang berlumuran darah itu, menggeliat dalam kesengsaraan kematiannja, haruslah ia memandang lebih djauh oleh pertjaja kepada Anak Allah jang diibaratkan oleh korban itu, jang akan mati mendjadi korban manusia. PZ 56.1

Upatjara persembahan korban ini, jang telah ditentukan oleh Allah, akan mendjadi satu peringatan jang kekal kepada Adam tentang dosanja, dan djuga satu pengakuan penjesalan akan dosanja. Pembunuhan njawa ini memberikan kepada Adam satu pengertian jang lebih dalam dan sempurna tentang pelanggarannja, hal mana tidak sesuatu melainkan kematian Anak Allah jang kekasih sadja dapat membajarnja. Tertjenganglah ia akan kebadjikan jang begitu besar serta kasih jang begitu mulia jang mau memberikan tebusan seperti itu untuk menjelamatkan orang jang berdosa. Ketika Adam sedang menjembelih korban jang tak bersalah itu, ia merasa se-olah-se-olah ia menumpahkan darah Anak Allah oleh tangannja sendiri. Diketahuinja bahwa kalau kiranja ia tetap setia kepada Allah, dan benar kepada tauratNja jang sutji itu, pastilah tidak akan ada binatang ataupun manusia jang akan mati. Tetapi dalam persembahan korban itu, jang menundjukkan kepada korban Anak Allah jang besar dan sempurna itu, kelihatanlah satu bintang pengharapan jang menerangkan hari kemudian jang gelap dan dahsjat itu, serta meringankan dia daripada keadaannja jang se-mata-se-mata putus harap dan kebinasaan itu. PZ 56.2

Pada mula pertama kepala tiap-tiap keluarga itulah dianggap radja dan imam rumah-tangganja sendiri. Kemudian, setelah bangsa manusia makin ber-tambah-ber-tambah diatas bumi, orang-orang jang diangkat oleh Allah melakukan upatjara perbaktian korban jang sutji ini bagi orang banjak. Darah korban haruslah dihubungkan dalam pikiran orang-orang jang berdosa dengan darah Anak Allah. Kematian korban itu haruslah menjaksikan kepada semua bahwa upah dosa itu maut adanja. Oleh mengadakan korban itu orang berdosa mengaku salahnja serta menjatakan pertjajanja, meng-harap-meng-harap kepada korban Anak Allah jang besar dan sempurna, jang diibaratkan oleh korban binatang-binatang.Dengan tiada grafirat Anak Allah, tidak akan ada penghubung berkat atau selamat daripada Allah kepada manusia. Allah tjemburu betul untuk kemuliaan hukumNja. Pelanggaran hukum itu menjebabkan pertjeraian jang hebat sekali diantara Allah dan manusia. Kepada Adam pada waktu masih belum berdosa diperkenankan perhubungan jang rapat, langsung, bebas, dan gembira dengan Chaliknja. Setelah ia berdosa Allah mau berhubung kepada manusia oleh al-Maseh dan malaikat-malaikat. PZ 57.1