Kerinduan Segala Zaman — 1

26/44

25 — PANGGILAN DI TEPI DANAU

SANG SURYA sedang memancarkan cahayanya di atas Danau Galilea. Murid-murid yang telah letih karena usaha yang tidak berhasil semalam suntuk, sedang duduk di atas perahu nelayannya yang terapungapung di atas danau itu. Yesus telah datang untuk berasing di tepi danau itu. Ia berharap bahwa pada pagi buta ini Ia akan mendapat sedikit waktu untuk beristirahat dari kesibukan melayani orang banyak yang mengikuti Dia setiap hari. Tetapi tidak berapa lama kemudian orang banyak itu mulai mengerumuni Dia. Jumlah orang banyak itu dengan cepat bertambah banyak sehingga Ia terdesak dari segala penjuru. Dan sementara itu murid-murid telah mendarat. Untuk menghindari desakan orang banyak, Yesus naik ke perahu Petrus dan meminta padanya agar menolak perahu itu agak jauh sedikit dari tepi pantai. Di sini Yesus dapat dilihat dan didengar oleh orang banyak dan dari dalam perahu itulah Ia mengajar orang banyak yang berada di pantai. KSZ1 253.1

Alangkah hebatnya pemandangan ini bagi malaikat-malaikat surga; Panglima Besar mereka, duduk di atas sebuah perahu nelayan, digoyang ke sana ke mari oleh ombak yang tidak henti-hentinya, sambil mengabarkan kabar keselamatan yang baik kepada orang banyak yang sedang mendengar serta berdesak-desak sampai ke tepi air. Ia yang dihormati oleh surga sedang mewartakan perkara besar tentang kerajaan-Nya di alam terbuka kepada rakyat jelata. Tetapi Ia tidak dapat lagi memperoleh pandangan lain yang lebih cocok lagi bagi pekerjaan-pekerjaan-Nya. Danau, gunung-gunung, ladang-ladang yang terhampar luas, sinar surya yang menyirami permukaan bumi, semuanya adalah bahan-bahan yang telah disediakan untuk menjelaskan pelajaran-Nya dan memasukkannya ke dalam pikiran mereka itu. Tidak ada suatu pelajaran Kristus yang siasia. Setiap pekabaran yang terbit dari bibir-Nya yang diterima oleh suatu jiwa adalah berupa perkataan hidup kekal. KSZ1 253.2

Setiap saat jumlah orang banyak itu kian bertambah. Orang-orang yang telah tua bersandar pada tongkatnya, petani-petani yang miskin turun dari bukit-bukit, nelayan dari danau itu, pedagang dan rabi-rabi, orang-orang kaya dan orang-orang terpelajar, tua dan muda, membawa orang-orang sakit dan yang menderita, berdesak-desak untuk mendengar perkataan Guru Ilahi itu. Pemandangan inilah yang telah dilihat oleh nabi terlebih dulu, karena sebagaimana yang tersurat: KSZ1 254.1

“Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang Sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain,—bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” KSZ1 254.2

Di samping orang banyak yang berdiri di pantai Galilea, Yesus di dalam khotbah-Nya di tepi danau mempunyai pendengar yang lain di hadapan pikiran-Nya. Berabad-abad lamanya, Ia melihat umat-umat-Nya yang setia yang meringkuk di dalam penjara dan diadili di dalam ruangan pengadilan, mengalami pencobaan, dibuang dan menderita sengsara. Segala pandangan gembira, pergumulan dan kebimbangan terhampar di hadapan-Nya. Di dalam perkataan yang diucapkan kepada mereka yang mengerumuni Dia, Ia sedang berbicara juga kepada jiwa-jiwa yang lain, perkataan yang sama pula akan sampai ke telinga mereka, sebagai suatu pekabaran pengharapan di dalam masa pencobaan, penghiburan di dalam dukacita dan menjadi terang surga di dalam kegelapan. Oleh Roh Kudus, suara yang berbicara dari perahu nelayan di atas danau Galilea itu akan terdengar juga berkata tentang damai kepada hati manusia pada akhir zaman ini. KSZ1 254.3

Pembicaraan-Nya berakhir, Yesus menoleh kepada Petrus dan meminta padanya untuk menebarkan pukatnya ke dalam danau untuk me nangkap ikan. Tetapi Petrus telah putus asa. Sepanjang malam ia tidak mendapat apa-apa. Sepanjang malam yang sepi itu ia telah memikirkan akan nasib Yohanes Pembaptis, yang telah menderita di dalam gua tahanannya. Ia telah memikirkan juga akan kemungkinan masa depan Yesus dan pengikut-pengikut-Nya, pengalaman sedih yang dialami Yesus di Yudea, dan niat jahat rabi-rabi dan imam-imam. Hingga pekerjaan hidupnya sendiri telah mengecewakan hatinya; dan pada saat ia menjaga di sisi jala kosong itu, masa depannya sangatlah gelap oleh kekecewaan hatinya. “Guru,” katanya, “telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” KSZ1 254.4

Malam adalah satu-satunya waktu yang baik untuk mencari ikan dengan jala di dalam air danau yang jemih itu. Setelah bekerja sepanjang malam dengan tidak mendapat suatu apa pun, maka tidak ada gunanya untuk membuang jala pada hari siang; tetapi Yesus telah memberikan perintah dan kasih Tuhan telah menggerakkan hati murid-murid untuk menurut. Simon dan saudaranya bersama-sama menebarkan jala itu. Pada saat mereka berusaha menarik pukat itu ke dalam perahu, oleh karena banyak ikannya, sehingga jala itu pun koyak. Mereka terpaksa memanggil Yakobus dan Yohanes untuk membantu mereka. Apabila tangkapan mereka itu naik ke dalam perahu, karena berat muatannya mereka takut akan tenggelam. KSZ1 255.1

Tetapi kini Petrus tidak lagi menghiraukan akan perahu dan muatannya. Mukjizat ini melebihi segala sesuatu yang pernah disaksikannya, karena hal ini baginya adalah menjadi suatu kenyataan kuasa Ilahi. Pada wajah Yesus ia telah lihat Seorang yang mengendalikan semesta alam. Hadimya Keilahian-Nya telah menyatakan bahwa ia tidak suci. Cinta bagi Tuhannya, malu akan kurang percayanya, bersyukur akan kerendahan hati Kristus, terlebih pula perasaan akan kecemarannya di hadapan kesucian yang kekal telah mengalahkan dia. Di kala teman-temannya mengeluarkan ikan-ikan dari dalam jala, Petrus jatuh di kaki Juruselamat sambil berkata, “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” KSZ1 255.2

Hadirat kesucian Ilahi yang sama yang telah menyebabkan Nabi Daniel rebah sebagai seorang yang mati di hadapan malaikat Allah. “Hilanglah kekuatanku; aku menjadi pucat sama sekali, dan tidak ada lagi kekuatan padaku.” Begitu pula bila Yesaya melihat kemuliaan Tuhan, ia berkata “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam.” Daniel 10:8; Yesaya 6:5. Kemanusiaan, dengan kelemahan dan dosanya, telah dibawa berhadapan dengan kesempumaan Ilahi, maka ia jatuh oleh kekurangan dan kecemarannya. Demikian pula jadinya dengan segala orang yang diberikan kesempatan melihat kebesaran dan keagungan Allah. KSZ1 255.3

Petrus berkata, “Pergilah dari padaku, karena aku ini orang berdosa”; tetapi ia tetap bergantung pada kaki Yesus karena merasa bahwa ia tidak dapat berpisah dari pada-Nya. Juruselamat menjawab, “Jangan takut mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” Setelah Yesaya melihat akan kesucian Allah dan ketidaklayakannya sendiri, barulah ia dipercayakan dengan pekabaran Ilahi. Setelah Petrus menyangkal dirinya dan bergantung kepada kuasa Ilahi, barulah ia menerima panggilan untuk bekerja bagi Kristus. KSZ1 256.1

Hingga saat ini tidak seorang dari murid-murid-Nya yang sepenuhnya bersatu sebagai teman sekerja bersama Yesus. Mereka telah menyaksikan banyak mukjizat-Nya dan telah mendengar pengajaran-Nya; tetapi mereka belum meninggalkan sepenuhnya pekerjaan hidup mereka yang semula. Pemenjaraan Yohanes Pembaptis membawa suatu kekecewaan yang pahit pada hati mereka itu. Jika demikian hasilnya pekerjaan Yohanes, maka sedikitlah harapan mereka itu kepada Tuhannya, untuk menghadapi segala pemimpin agama yang bersatu melawan Dia. Dalam hal ini, kembali untuk seketika pekerjaan nelayan adalah sebagai suatu jalan kelegaan. Tetapi kini Yesus memanggil mereka itu untuk meninggalkan pekerjaan hidup semula dan menyatukan perhatian mereka itu dengan perhatian-Nya. Petrus telah menerima panggilan itu. Setelah tiba di tepi danau, Yesus memanggil tiga murid yang lain. “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Dengan segera mereka meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Dia. KSZ1 256.2

Sebelum meminta mereka meninggalkan pukat dan perahu mereka, Yesus telah memberikan kepada mereka jaminan bahwa Allah akan menyediakan keperluan mereka. Pemakaian perahu Petrus bagi pekerjaan Injil telah dibayar kembali dengan pembayaran yang sangat mahal. Ia yang “kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya” telah berkata, “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu.” Roma 10:12; Lukas6:38. Dalam takaran ini Ia memberi upah pelayanan murid-murid. Dan tiap-tiap pengorbanan diberikan karena “karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya.” Efesus 3:20; 2:7. KSZ1 256.3

Selama malam yang sedih di atas danau, bila mereka terpisah dari Kristus, murid-murid sangat ditekan oleh perasaan kebimbangan dan letih karena usaha yang tidak berhasil. Tetapi hadirat-Nya menyalakan iman mereka, dan membawa kepada mereka kesukaan dan kemajuan. Demikian pula dengan kita; jika terpisah dari Kristus, maka pekerjaan kita akan sia-sia dan mudahlah untuk tidak percaya dan bersungut-sungut. Tetapi bila Ia dekat dan kita bekerja di bawah petunjuk-Nya, kita bersuka-suka di dalam bukti kuasa-Nya. Adalah pekerjaan Setan untuk mengecewakan jiwa; adalah pekerjaan Kristus untuk mengilhami jiwa itu dengan percaya dan pengharapan. KSZ1 257.1

Suatu pelajaran yang dalam yang telah digambarkan oleh mukjizat ini kepada murid-murid menjadi suatu pelajaran bagi kita juga,—bahwa Ia oleh perkataan-Nya dapat mengumpulkan ikan-ikan dari lautan, dapat juga menekan hati manusia dan menarik mereka itu oleh tali cinta-Nya, agar hamba-hamba-Nya pun boleh menjadi “penjala manusia.” KSZ1 257.2

Mereka adalah orang-orang yang hina dan tidak terpelajar karena hanya nelayan dari Galilea; tetapi Kristus, Terang dunia, dengan limpahnya dapat menyanggupkan mereka itu bagi suatu jabatan yang atasnya Ia telah memilih mereka itu. Juruselamat tidak memandang rendah akan pendidikan; karena apabila seorang dikendalikan oleh kasih Allah dan diabdikan bagi pekerjaan-Nya, pikiran itu menjadi suatu berkat. Tetapi Ia melewati orang-orang pintar pada zaman-Nya, karena mereka itu hanya bersandar pada diri mereka sendiri sehingga mereka tidak dapat merasakan penderitaan manusia dan menjadi teman sekerja dengan orang yang dari Nazaret itu. Dalam kesombongan mereka merasa hina jika diajar oleh Kristus. Tuhan Yesus mencari kerjasama mereka yang akan menjadi saluran yang tidak akan pecah bagi hubungan anugerah-Nya. Hal utama yang patut dipelajari oleh orang yang akan menjadi pekerja bersama Allah adalah pelajaran tentang tidak bersandar pada diri sendiri; lalu mereka bersedia untuk diberi tabiat Kristus. Hal ini tidaklah didapat oleh pendidikan dalam kebanyakan sekolah ilmu pengetahuan di dunia ini. Buah-buah kebijaksanaanlah yang didapat dari Guru Ilahi sendiri. KSZ1 257.3

Yesus memilih nelayan yang tidak berpendidikan karena mereka tidak disekolahkan dalam tradisi dan adat istiadat yang salah pada zaman mereka itu. Mereka adalah orang-orang yang sanggup karena pembawaannya dan mereka rendah hati dan mudah diajar orang-orang yang dapat dididik-Nya bagi pekerjaan-Nya. Dalam langkah hidup yang biasa banyak orang yang dengan sabar melakukan pekerjaan hidup sehari-hari, tidak menyadari bahwa ia memiliki kuasa yang, jika digunakan, akan mengangkat dia pada suatu taraf yang sama dengan orang yang dihormati oleh dunia. Jamahan tangan diperlukan untuk membangkitkan kesanggupan yang masih terpendam. Orang seperti itulah dipanggil Tuhan untuk menjadi teman pengerja-Nya, dan diberikan-Nya kepada mereka itu kesempatan bergaul dengan Dia. Tidak pernah ada seorang besar di dunia ini seperti Dia. Apabila murid-murid selesai mendapat pendidikan dari Juruselamat, mereka tidak lagi bodoh atau tak berpendidikan. Mereka menjadi seperti Dia dalam pikiran, tabiat dan orang lain pun menerima pengetahuan yang telah mereka peroleh dari Yesus. KSZ1 258.1

Pekerjaan pendidikan yang tertinggi bukan hanya untuk menghubungkan pengetahuan, tetapi untuk memberikan tenaga yang penting yang diterima melalui hubungan pikiran dengan pikiran, jiwa dengan jiwa. Hanya hidup yang dapat menghasilkan hidup. Maka alangkah luar biasanya kesempatan mereka itu, yang selama tiga tahun tiap-tiap hari berhubungan dengan hidup Ilahi dari mana mengalir tiap-tiap tenaga pemberi hidup yang telah memberkati dunia ini. Melebihi segala kawan-kawannya, Yohanes murid yang kekasih menyerahkan dirinya kepada kuasa hidup yang ajaib itu. Ia berkata, “Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami.” “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia.” I Yohanes 1:2; Yohanes 1:16. KSZ1 258.2

Pada zaman rasul-rasul Tuhan, tidak ada sesuatu yang membawa ke-muliaan kepada diri mereka itu. Nyatalah bahwa kemajuan pekerjaan mereka terserah pada Allah. Kehidupan orang-orang ini, tabiat yang me-reka kembangkan, dan pekerjaan besar yang dilakukan Allah melalui me-reka itu adalah suatu kesaksian kepada apa yang diperbuat-Nya bagi se-gala orang yang dapat diajar dan menurut. KSZ1 259.1

Ia yang lebih mengasihi Kristus, akan melakukan perbuatan baik yang terbesar. Tidak ada batas pada kegunaan seorang yang mengesampingkan dirinya sendiri, menyediakan tempat bagi pekerjaan Roh Kudus di dalam hatinya, dan menghidupkan suatu kehidupan yang sepenuhnya berserah kepada Allah. Jika manusia menderita suatu disiplin yang perlu, tanpa sungutan, Allah akan mengajar mereka itu tiap jam, dan tiap hari. Ia rindu menyatakan rahmat-Nya. Jika umat-Nya hendak memindahkan segala rintangan, maka Ia akan menuangkan air keselamatan dengan limpahnya melalui saluran-saluran manusia. Jikalau manusia dalam kehidupan yang rendah itu dikuatkan untuk melakukan segala yang baik yang mereka dapat perbuat, jika tangan yang menekan tidak diletakkan atas mereka itu untuk menekan kembali kegiatan mereka, maka akan terdapat seratus pengerja bagi Kristus di mana kini hanya seorang. KSZ1 259.2

Allah mengambil seseorang sebagaimana adanya, dan mendidik dia bagi pelayanan-Nya, jika ia hendak menyerahkan dirinya kepada-Nya. Roh Allah yang diterima di dalam jiwa, akan mempertajam kesanggupan pikirannya. Di bawah pimpinan Roh Kudus, pikiran yang diserahkan sepenuhnya kepada Allah berkembang dengan seimbang dan dikuatkan untuk memahami dan menggenapi tuntutan-tuntutan Allah. Tabiat yang lemah dan ragu-ragu akan diubahkan pada suatu tabiat yang kuat dan te-guh. Penyerahan yang terus menerus membangunkan suatu hubungan yang begitu dekat antara Yesus dengan murid-murid-Nya sehingga orang-orang Kristen menjadi seperti Dia dalam pikiran dan tabiat. Me-lalui suatu hubungan dengan Kristus ia akan memiliki pandangan yang lebih jernih dan lebih luas. Penglihatannya akan lebih tajam, perkem-bangan tabiatnya akan lebih seimbang. Ia yang rindu bekerja bagi Kris-tus, pikirannya dipertajam oleh kuasa pemberi hidup yaitu Matahari Ke-benaran sehingga ia sanggup menghasilkan banyak buah bagi kemuliaan Allah. KSZ1 259.3

Orang yang berpendidikan tertinggi di dalam bidang kesenian dan ilmu pengetahuan telah mempelajari pelajaran yang indah dari orang Kristen di dalam kehidupan yang rendah yang dinyatakan oleh dunia sebagai orang yang tidak terpelajar. Tetapi murid-murid yang bodoh ini telah mendapat pendidikan mereka di dalam sekolah yang tertinggi. Mereka telah duduk di kaki Dia yang berbicara seperti “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” KSZ1 260.1