Membina Anak yang Bertanggung Jawab

2/84

Daftar Isi

Bagian 1—RUMAH TANGGA, SEKOLAH YANG PERTAMA

Pasal 1—Pentingnya Sekolah Rumah Tangga

Pendidikan Dimulai di dalam Rumah Tangga. Di dalam rumah tanggalah pendidikan anak harus dimulai. Di sinilah sekolahnya yang pertama. Di sini, dengan orangtua sebagai guru, ia harus mempelajari pelajaran-pelajaran yang harus menuntun dia sepanjang umur hidupnya pelajaran tentang sikap hormat, penurutan, dan pengendalian diri. Pengaruh pendidikan rumah tangga adalah satu kuasa yang besar bagi yang baik atau yang ja-hat. Semuanya itu di dalam banyak hal terjadi dengan diam-diam dan lambat, tetapi jikalau digunakan untuk yang benar, semuanya itu akan merupakan suatu kuasa yang meluas bagi kebenaran. Jika- lau anak tidak dididik dengan benar di sini, Setan akan mendidiknya melalui alat-alat pilihannya. Dengan demikian, betapa pentingnya sekolah rumah tangga itu! 1 MABJ 13.1

Di Sinilah Fondasi Diletakkan. Di atas bahu semua orangtua terletak tanggung jawab untuk memberikan pendidikan jasmani, mental dan rohani. Haruslah menjadi tujuan setiap orangtua untuk mengembangkan di dalam diri anaknya satu tabiat yang seimbang dan simetris. Ini bukanlah suatu pekerjaan yang kurang penting satu pekerjaan yang menuntut pemikiran dan doa yang sungguh-sungguh serta usaha yang sabar dan tekun. Sebuah dasar yang benar harus diletakkan, sebuah kerangka, yang kuat dan teguh, harus didirikan; dan kemudian pekerjaan membangun, menghaluskan, menyempurnakan, harus berlangsung terus hari demi hari. 2 MABJ 14.1

Jangan Berikan Sesuatu kepada Anak Kecuali Hak Ini. Hai para orangtua, ingatlah bahwa rumah tanggamu adalah sebuah sekolah latihan, di mana anak-anakmu harus disediakan untuk rumah yang di atas. Lebih baik mereka tidak memperoleh sesuatu yang lainnya asalkan mereka mendapat pendidikan yang harus mereka terima pada tahun-tahun permulaan kehidupan mereka. Jangan ada kata-kata yang kasar. Ajar anak-anak-dikan yang berasal dari Allah. mu untuk menjadi baik hati dan sabar. Ajar mereka untuk memikirkan kepentingan orang lain. Dengan demikian engkau sedang menyediakan mereka untuk pelayanan yang lebih tinggi dalam perka-ra-perkara keagamaan. 3 MABJ 14.2

Rumah tangga haruslah menjadi satu sekolah persiapan, di mana anak-anak dan orang-orang muda bisa dijadikan layak untuk melayani Guru itu, sebagai persiapan untuk mengikuti sekolah yang lebih tinggi di dalam kerajaan Allah. 4 MABJ 14.3

Bukan Satu Soal yang Remeh. Janganlah pendidikan rumah tangga dianggap sebagai soal yang remeh. Ini menempati tempat yang uta-ma di dalam segala pendidikan yang benar. Para ibu dan bapa telah mempercayakan kepada diri mereka sendiri tugas untak membentuk pikiran anak-anak mereka. 5 MABJ 14.4

Betapa mengejutkan peribahasa ini, “Apabila ranting dibengkok-kan, maka pohon itupun turut menjadi bengkok.” Hal ini harus di- terapkan kepada pendidikan anak-anak kita. Para orangtua, maukah engkau mengingat bahwa pendidikan anak-anakmu dari sejak tahun-tahun pertama kehidupan mereka itu telah dipercayakan kepadamu sebagai satu tugas yang suci? Pohon-pohon yang masih muda ini harus dididik dengan lemah lembut, agar mereka bisa ditanam dalam taman Allah. Bagaimanapun juga pendidikan rumah tangga jangan sampai diabaikan. Mereka yang melalaikannya sedang melalaikan tugas keagamaan. 6 MABJ 14.5

Luasnya Cakupan Pendidikan Rumah Tangga. Pendidikan rumah tangga berarti banyak. Ini merupakan sesuatu yang mempunyai ca-kupan yang luas: Abraham disebut sebagai bapa orang percaya. Di an-tara perkara-perkara yang telah menjadikan dia sebagai suatu teladan yang menonjol dalam hal kesalehan adalah penurutan yang ketat yang diadakan di dalam rumah tangganya terhadap hukum-hukum Allah. Ia memupuk agama dalam rumah tangga. Ia yang melihat pendidikan yang diberikan di dalam setiap rumah tangga, dan yang mengukur pe-ngaruh daripada pendidikan ini, berkata, “Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan, dengan melakukan kebenaran dan keadilan.” 7 MABJ 15.1

Allah telah memerintahkan bangsa Ibrani supaya mengajar anak-anak mereka tentang segala tuntutan-Nya, dan menjadikan mereka untuk mengerti akan segala perlakuan-Nya terhadap bangsa mereka. Rumah tangga dan sekolah adalah satu. Gantinya bibir yang asing, para ibu dan bapa yang penuh kasih harus memberikan petunjuk-petunjuk kepada anak-anak mereka. MABJ 15.2

Pemikira tentang Allah dihubungkan dengan segala peristiwa sehari-hari di dalam rumah tangga. Perbuatan Allah yang hebat dalam membebaskan umat-Nya diceritakan kembali dengan menarik dan dengan sikap yang penuh rasa hormat. Kebenaran-kebenaran agung tentang pimpinan Allah dan kehidupan di masa yang akan datang ditanamkan di dalam pikiran yang masih muda itu. Pikiran itu pun menjadi biasa dengan perkara yang benar, yang baik dan yang indah. MABJ 15.3

Dengan menggunakan gambar-gambar dan laml ang, pelajaran-pelajaran yang diberikan itu memperoleh gambarai nya, dan dengan demikian itu lebih tertanam di dalam ingatan mereka. Melalui imajinasi yang dihidupkan ini anak itu, mulai dari masa bayi, dibawa ke dalam rahasia-rahasia, hikmat dan pengharapan leluhurnya, dan menuntun di dalam satu ja!an pemikiran dan perasaan dan sikap menunggu, yang menjangkau perkara-perkara yang ada di seberang hal-hal yang kelihatan dan fana kepada yang tidak kelihatan dan baka. 8 MABJ 15.4

Ini Merupakan Pendahuluan dan Persiapan untuk Sekolah Biasa.—Pekerjaan orangtua mendahului pekerjaan guru. Mereka mempunyai sekolah rumah tangga—tingkat pertama. Jikalau mereka berusaha dengan saksama dan disertai doa untuk mengetahui dan melakukan tugas mereka, maka mereka akan mempersiapkan anak-anak mereka untuk memasuki sekolah tingkatan kedua—untuk menerima petunjuk-petunjuk dari guru. 9 MABJ 16.1

Ini Membentuk Tabiat. Rumah tangga dapat menjadi sebuah sekolah di mana tabiat anak-anak benar-benar dibentuk menurut pola sebuah istana. 10 MABJ 16.2

Pendidikan di dalam Rumah Tangga di Nazaret. Yesus memperoleh pendidikan-Nya di dalam rumah tangga. Ibu-Nya adalah guru manusia-Nya yang pertama. Dari bibirnya, dan dari gulungan kitab nabi-nabi, Ia telah mempelajari perkara-perkara surga. Ia hidup di dalam sebuah rumah tangga yang sederhana dan dengan setia dan se-nang hati mengambil bagian untuk memikul beban rumah tangga. Ia yang menjadi pemerintah surga telah rela menjadi seorang hamba, seorang anak yang penuh kasih dan penurutan. Ia mempelajari suatu keterampilan, dan dengan tangan-Nya sendiri bekerja di bengkel pertukangan kayu bersama dengan Yusuf. “ 11 MABJ 16.3