Para Nabi Dan Bapa, Vol. 1

42/43

Di Padang Belantara

Selama kurang lebih empat puluh tahun lamanya bangsa Israel telah hilang dari pandangan di dalam keadaan yang terpencil di padang belantara. Musa berkata, “Adapun lamanya kita berjalan dari Kades-Barnea sampai menyeberang anak sungai Yered itu, ia itu tigapuluh delapan tahun sampai habislah mati segenap bangsa orang perang yang di tengah-tengah tentara itu, seperti Tuhan telah berjanji kepada mereka itu pakai sumpah. Maka sebab itupun tangan Tuhan ada melawan mereka itu hendak diparangkannya mereka itu dari dalam tentaranya, sehingga berkesudahanlah mereka itu sama sekali.” Ulangan 2:14, 15. PB1 429.1

Selama tahun-tahun ini orang banyak terus-menerus diingatkan bahwa mereka berada di bawah tempelakan ilahi. Di dalam pemberontakan di Kades mereka telah menolak Allah, dan untuk sementara waktu Allah telah menolak mereka. Olehkarena mereka telah terbukti tidak setia kepada perjanjianNya, mereka tidak dapat menerima tanda dari perjanjian itu, yaitu upacara sunat. Keinginan mereka untuk kembali ke negeri perbudakan itu telah menunjukkan bahwa mereka tidak layak memperoleh kemerdekaan, dan upacara Paskah, yang telah ditetapkan untuk memperingati kelepasan dari perbudakan, tidak boleh dirayakan. PB1 429.2

Tetapi diteruskannya upacara kaabah menjadi kesaksian bahwa Allah tidaklah sama sekali meninggalkan mereka. Dan pimpinanNya masih mencukupkan kebutuhan mereka. “Tuhan Aliahmu telah memberkati kamu di dalam segala pekerjaan tanganmu,” kata Musa, dalam mengulangi kembali sejarah pengembaraan mereka. “Ia mengetahui perjalananmu melalui padang belantara yang luas ini; selama empat puluh tahun Tuhan telah menyertai kamu; engkau tidak kekurangan apapun.” Dan nyanyian orang Lewi yang dicatat oleh Nehemia, dengan jelas menggambarkan penjagaan Allah bagi Israel, sekalipun pada tahun-tahun penolakan dan pembuangan mereka: “Maka tiada juga kau tinggalkan mereka itu di padang Tiah olehkarena kebesaran rahmatmu, sehingga tiang awan itu tiada undur daripadanya pada siang hari akan menghantar mereka itu pada jalannya, dan tiang apipun tiada undur pada malam akan menerangi mereka itu, yaitu pada jalan yang patut diturutnya. Dan lagi Engkaupun sudah mengaruniakan Rohmu yang baik itu akan memberi akal kepada mereka itu dan mannamupun tiada kau tahani daripada mulut mereka itu dan Engkaupun sudah mengaruniakan air kepada mereka itu akan memuaskan dahaganya. Demikianlah Engkaupun sudah memeliharakan mereka itu di padang Tiah empat puluh tahun lamanya, sehingga mereka itu tiada berkekurangan dan pakaian mereka itupun tiada buruk dan kaki mereka itupun tiada bengkak.” Nehemia 9:19-21. PB1 429.3

Pengembaraan di padang belantara bukan hanya ditetapkan sebagai satu hukuman terhadap pemberontak-pemberontak dan orang-orang yang bersungut itu, tetapi itu juga merupakan satu disiplin bagi generasi yang sedang timbul, sebagai persiapan untuk memasuki Tanah Perjanjian. Musa menyatakan kepada mereka, “Seperti seorang bapa mengajar anaknya begitulah telah diajar Tuhan, Aliahmu, akan kamupun,” “supaya direndahkannya hatimu dengan mencobai kamu, hendak diketahuinya barang yang ada di dalam hatimu, kalau kamu menurut firmannya atau tidak. Dan Ia . . . membiarkan kamu lapar, lalu diberinya kamu makan manna, yang tiada kamu kenal dan yang tiada dikenal oleh leluhurmupun, agar Ia dapat memberitahukan kepada kamu bahwa adapun hidup manusia itu bukan bergantung kepada makanan saja, melainkan juga oleh tiap-tiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Ulangan 8:5, 2, 3. PB1 430.1

“Maka telah didapatinya akan dia pada padang tandus, dalam gurun yang ada pengaum-aum; lalu dikelilingnya akan dia, ditiliknya akan dia, dipeliharakannya seperti akan biji matanya.” “Dalam segala kepicikan mereka itu Iapun kepicikan sertanya, dan Malakalhadiratnya sudah memeliharakan mereka itu; sekedar kasihnya dan sayangnya sudah ditebusnya mereka itu, dan diangkatnya dan ditanggungnya mereka itu pada segala hari daripada zaman dahulu kala.” Ulangan 32:10; Yesaya 63:9. PB1 430.2

Namun demikian catatan satu-satunya tentang kehidupan mereka di padang belantara itu adalah peristiwa-peristiwa pemberontakan terhadap Tuhan. Pemberontakan Korah telah mengakibatkan binasanya empat belas ribu orang Israel. Dan ada juga peristiwa-peristiwa yang tersembunyi yang menunjukkan roh mengolok-olok yang sama terhadap wewenang Allah. PB1 430.3

Pada suatu peristiwa anak laki-laki dari seorang perempuan Israel yang kawin dengan seorang Mesir, salah seorang dari bangsa campuran yang ikut keluar bersama-sama dengan bangsa Israel dari Mesir, telah meninggalkan kemahnya lalu memasuki tempat perkemahan Israel, dan mengaku bahwa dia juga berhak mendirikan kemahnya di antara orang Israel. Hal ini dilarang oleh hukum ilahi, orang-orang Mesir harus dipisahkan dari perhimpunan orang Israel sampai kepada generasi yang ketiga. Satu percekcokkan telah terjadi antara dia dengan seorang Israel dan bilamana perkara ini dihadapkan kepada hakim-hakim, maka orang ini dinyatakan bersalah. PB1 430.4

Marah olehkarena keputusan itu, ia telah mengutuk hakim, dan dalam kemarahannya yang berkobar-kobar itu ia telah menghujat nama Allah. Segera ia dihadapkan kepada Musa. Perintah telah diberikan bahwa, “Dan lagi barang siapa yang mengutuki bapa atau ibunya, ia itu tak akan jangan dibunuh juga hukumnya.” (Keluaran 21:17); tetapi tidak ada satu perintah yang berhubungan dengan soal ini. Begitu hebatnya kejahatan orang ini maka dirasa perlu untuk memohon satu petunjuk khusus dari Allah. Orang itu dimasukkan ke dalam satu ruangan sampai kehendak Allah dinyatakan. Allah sendiri yang mengucapkan hukumannya; oleh perintah ilahi orang yang menghujat itu dibawa keluar dari perkemahan dan dilempari dengan batu sampai mati. Mereka yang menjadi saksi terhadap dosanya itu menaruh tangan mereka di atas kepalanya, dengan demikian secara khidmat menyaksikan akan kebenaran tuduhan yang dilemparkan kepada dirinya. Kemudian mereka ini melemparkan batu-batu yang pertama, dan orang banyak yang berdiri di tempat itu kemudian ikut serta melaksanakan hukuman itu. PB1 431.1

Kejadian ini diikuti dengan diumumkannya satu hukum untuk menghadapi pelanggaran yang sama seperti itu, “Dan lagi katakanlah olehmu kepada segala bani Israel: Adapun orang yang menghujat Aliahnya, ia itu akan menanggung durhakanya. Maka barang siapa yang menghujat nama Hua, tak akan jangan orang itu mati dibunuh; hendaklah segenap sidang melempari dia dengan batu, baik ia orang dagang baik ia anak bumi, jikalau dihujatnya nama itu, tak akan jangan orang itu mati dibunuh.” Imamat 24:15, 16. PB1 431.2

Ada orang-orang yang akan meragukan kasih Allah dan keadilanNya dalam menjatuhkan hukuman yang begitu berat terhadap kata-kata yang diucapkan dalam keadaan marah yang meluap-luap. Tetapi baik kasih dan juga keadilan menuntut agar ditunjukkan bahwa ucapan-ucapan yang didorong oleh kebencian terhadap Allah adalah satu dosa yang besar. Pembalasan yang dijatuhkan kepada orang yang pertama melanggar itu akan menjadi satu amaran kepada orang lain agar nama Allah tetap dihormati. Tetapi kalau dosa orang ini dibiarkan begitu saja tanpa mendapat hukuman, orang-orang lain akan menjadi rusak moralnya; dan sebagai akibatnya banyak orang akhirnya harus dikorbankan. PB1 431.3

Bangsa campuran yang telah keluar bersama-sama dengan orang Israel dari Mesir adalah satu sumber daripada pencobaan dan kesulitan yang terus-menerus. Mereka mengaku telah meninggalkan penyembahan berhala dan berbakti kepada Allah yang benar; tetapi pendidikan dan latihan yang diterima pada masa kecil telah membentuk kebiasaan dan tabiat mereka, dan sedikit banyaknya mereka telah dinodai oleh penyembahan berhala dan oleh sikap tidak hormat kepada Allah. Merekalah yang paling sering menimbulkan pertengkaran dan yang pertama bersungut-sungut, dan mereka telah mempengaruhi perhimpunan itu dengan kebiasaan-kebiasaan penyembahan berhala mereka dan persungutan mereka kepada Allah. PB1 432.1

Segera setelah kembali ke padang belantara, satu peristiwa pelanggaran terhadap hari Sabat telah terjadi, dalam satu keadaan yang telah menjadikan hal itu merupakan satu kesalahan yang berbeda. Pengumuman Tuhan bahwa Ia akan menolak Israel telah membangkitkan satu roh pemberontakan. Salah seorang dari antara orang banyak itu, merasa marah olehkarena mereka tidak diijinkan masuk ke Kanaan dan bertekad untuk menunjukkan perlawanannya terhadap hukum Allah, telah nekad untuk mengadakan pelanggaran yang terang-terangan terhadap hukum yang keempat dengan pergi keluar mengumpulkan ranting-ranting kayu pada hari Sabat. Selama pengembaraan di padang belantara menyalakan api pada hari yang ketujuh dilarang sama sekali. Larangan ini tidak akan berlaku sampai ke Tanah Kanaan, dimana iklim yang sangat dingin sering menjadikan api itu sebagai satu keperluan; tetapi di padang belantara, api tidaklah diperlukan untuk pemanasan. Tindakan orang ini merupakan satu pelanggaran yang sengaja dan sewenang-wenang terhadap hukum keempat—satu dosa, bukan oleh kealpaan atau kelalaian, tetapi tindakan yang disengaja. PB1 432.2

Ia tertangkap basah dan dibawa menghadap Musa. Sudah dinyatakan bahwa pelanggaran terhadap hari Sabat harus dihukum mati, tetapi belum pernah diterangkan bagaimana hukuman itu harus dijalankan. Hal ini dihadapkan oleh Musa kepada Tuhan dan satu petunjuk telah diberikan, “Tak akan jangan orang itu mati dibunuh; hendaklah segenap sidang melontari. dia dengan batu di luar tempat tentara.” Bilangan 15:35. Dosa-dosa menghujat dan melanggar Sabat dengan sengaja menerima hukuman yang sama, karena kedua-duanya merupakan satu pernyataan mengolok-olok wewenang Allah. PB1 432.3

Pada zaman kita ini banyak orang yang menolak hari Sabat dengan menyatakan bahwa itu adalah satu lembaga bangsa Yahudi, dan mengatakan bahwa jikalau itu harus ditaati maka hukuman mati harus dijalankan terhadap pelanggarannya; tetapi kita melihat bahwa menghujat juga menerima hukuman yang sama seperti pelanggaran terhadap Sabat. Akankah juga kita berkesimpulan bahwa hukum yang ketiga itu berlaku hanya kepada bangsa Yahudi saja? Tetapi alasan yang diadakan sehubungan dengan hukuman mati itu berlaku kepada hukum yang ketiga, yang kelima dan hampir kepada seluruhnya dari sepuluh hukum itu, sama seperti hukum yang keempat. Sekalipun sekarang ini Allah tidak menghukum pelanggaran terhadap hukumNya dengan hukuman yang sementara, tetapi Ia menyatakan bahwa upah dosa itulah maut; dan di dalam pelaksanaan hukuman yang terakhir akan didapati bahwa kematian adalah bahagian daripada mereka yang melanggar peraturan-peraturanNya yang suci. PB1 432.4

Selama empat puluh tahun di padang belantara, bangsa itu setiap minggu diingatkan tentang kewajiban-kewajiban yang suci sehubungan dengan Sabat, melalui mujizat manna. Tetapi sekalipun adanya hal seperti ini tidaklah menuntun mereka kepada penurutan. Sekalipun mereka tidak berani melakukan pelanggaran yang terbuka olehkarena terjadinya hukuman yang nyata itu, tetapi ada kelalaian di dalam hal penurutan kepada hukum yang keempat itu. Allah menyatakan melalui nabinya, “Dihinakannya segala SabatKu.” Yehezkiel 20:13-24. Dan hal ini termasuk di antara sebab-sebab tidak bisa masuknya generasi yang pertama itu ke Tanah Peijanjian. Tetapi anak-anak mereka itu tidak mau mengambil pelajaran. Demikianlah kelalaian mereka terhadap Sabat selama empat puluh tahun pengembaraan mereka itu, dimana sekalipun Allah tidak menghalangi mereka untuk memasuki Kanaan, Ia menyatakan bahwa mereka harus dicerai-beraikan di antara bangsa kapir setelah menduduki Tanah Peijanjian itu. PB1 433.1

Dari Kades bangsa Israel telah kembali ke padang belantara; dan setelah masa pengembaraan mereka di padang belantara itu berakhir, maka sampailah mereka itu, “bahkan segenap perhimpunan itu di padang belantara Zin pada bulan yang pertama; dan bangsa itupun tinggallah di Kades.” Bilangan 20:1. PB1 433.2

Di tempat ini Miryam mati dan dikuburkan. Dari saat-saat yang penuh kesukaan di tepi Laut Merah, pada waktu bangsa Israel berjalan sambil menyanyi dan menari untuk merayakan kemenangan Tuhan, sampai ke kuburan di padang belantara yang mengakhiri pengembaraan selama umur hidup mereka itu—demikianlah nasib jutaan manusia yang dengan harapan yang muluk-muluk telah keluar dari negeri Mesir. Dosa telah merebut dari bibir mereka itu cawan berkat Allah. Akankah generasi yang berikutnya itu mengambil pelajaran dari pengalaman ini? PB1 433.3

“Maka dalam pada itupun mereka itu berdosa lagi, tiada juga mereka itu percaya olehkarena perbuatannya yang ajaib itu. Pada masa dibunuhnya mereka itu bertanyalah mereka itu akan Dia, lalu kembali serta mencari Allah dengan rajin. Dan teringatlah mereka itu akan Allah, gunung batunya, dan Allah taalapun penebusnya.” Mazmur 78:32, 34, 35. Tetapi mereka tidak berpaling kepada Allah dengan suatu maksud yang sungguh-sungguh. Sekalipun pada waktu dianiaya oleh musuh-musuh mereka, mereka mencari pertolongan dari Dia yang satu-satunya dapat melepaskan mereka, tetapi “hati mereka itu tiada betul kepadaNya dan tiada mereka itu teguh dalam perjanjianNya. Tetapi oleh sebab rahmatNya maka diampuninyalah salah mereka itu dan tiada dibinasakannya, melainkan kerap kali ditahaninya murkanya dan tiada dinyatakannya segala amarahnya. Karena ingatlah Ia akan hal mereka itu hawa nafsu jua dan hanya senafas yang pergi dan tiada kembali pula adanya.” Mazmur 78:37-39. PB1 433.4